Tuesday, 28 April 2015

7 Manfaat Diam

Tujuh Manfaat Diam
Oleh : Ust. Musyafa

Pertama: Merupakan Ibadah tanpa harus capek

Kedua: Merupakan hiasan diri tanpa perhiasan

Ketiga: Wibawa tanpa kekuasaan

Keempat: Benteng tanpa dinding

Kelima: Tidak perlu meminta maaf kepada siapapun

Keenam: Malaikat pencatat amal menjadi rehat

Ketujuh: Penutup keburukan dan sisi-sisi kejahiliyahan diri

Dengan diam, anda mendapatkan kekuatan hebat untuk berfikir secara mendalam tentang apa yang terjadi di sekelilingmu, serta dapat konsentrasi dengan penuh tentang rasionalitas suatu jawaban

Dengan diam anda telah menguasai orang-orang yang ada di hadapan anda melalui pandangan mata anda yang mengandung banyak makna tersembunyi, yang membuat mereka kebingungan dalam memberikan tafsirnya

Diam yang disertai sedikit gerak pisik dan isyarat mata telah memaksa orang yang ada di hadapan anda harus banyak mengungkapkan isi hatinya, sehingga ia lebih banyak berbicara daripada yang seharusnya ia berbicara

Bisa jadi diam terasa oleh orang lain sebagai serangan terselubung yang menjadikannya semakin mendongkol, sehingga anda menjadi lebih kuat tanpa harus berbicara dan bercapek-capek

Diam bisa menjadi solusi paling jitu dalam menghadapi berbagai problema rumah tangga ringan yang bertumpuk-tumpuk

Di saat-saat genting, diam dapat melahirkan sikap dihormati, sebaliknya, perlawanan dan perdebatan dapat melahirkan sikap semakin menjauh dan dendam

Dengan diam, anda telah menghancurkan berbagai senjata orang yang berseteru denganmu, serta menelanjangi mereka dari kemampuannya untuk melanjutkan kosa katanya

Diam telah menjadi guru yang baik agar anda belajar menjadi pendengar yang baik, di mana banyak orang telah kehilangan sifat ini


تَرْكُ الجَوَابِ عَلىَ الجَاهِلِ جَوَابٌ
   "Tidak menjawab terhadap omongan/ pembicaraan orang yang bodoh itu adalah jawabannya"


دَاوُوْا الغَضَبَ بِالصُّمْتِ
"Obatilah kemarahan itu dengan diam"


7 Golongan Yang Akan Mendapatkan Naungan Allah di Hari Kiamat

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه berkata, “Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:

قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ، اْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ، اجْتَمَعَا عَلَيْهِ، وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ، وَجَمَالٍ، فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى، حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا، فَفَاضَتْ عَيْنَاه

Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah سبحانه وتعالى  pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: Pemimpin yang adil, Pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah), Seseorang yang hatinya bergantung kepada masjid (selalu melakukan shalat berjamaah di dalamnya), Dua orang yang saling mengasihi di jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, Seseorang yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik (untuk bezina), tapi ia mengatakan: "Aku takut kepada Allah", Seseorang yang diberikan sedekah kemudian merahasiakannya sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kanannya, dan Seseorang yang berdzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata dari kedua matanya." (HR Bukhari)

7 Golongan Yang Akan Mendapatkan Naungan Allah di Hari Kiamat :
  1. Pemimpin yang adil;
  2. Pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah);
  3. Seseorang yang hatinya bergantung kepada masjid (selalu melakukan shalat berjamaah di dalamnya);
  4. Dua orang yang saling mengasihi di jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah;
  5. Seseorang yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik (untuk bezina), tapi ia mengatakan: "Aku takut kepada Allah";
  6. Seseorang yang diberikan sedekah kemudian merahasiakannya sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kanannya;
  7. Seseorang yang berdzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata dari kedua matanya.

Monday, 27 April 2015

12 Profil 'Ibadurrahman

Menggapai Sifat 'Ibadurrahman

Surat Al Furqan adalah salah satu surat dalam Al Qur'an yang berbicara tentang sifat orang-orang yang beriman. Surat ini berbicara panjang lebar tentang sifat 'Ibadurrahman (hamba-hamba Allah Yang Penyayang). Suatu sebutan yang sangat indah, karena penggunaan kata 'ibad menunjukkan bahwa orang itu adalah orang taat kepada Allah swt atau pernah berdosa, tetapi bertaubat dari dosanya.

Adapun 12 profil 'Ibadurrahman tersebut adalah :

  1. Rendah Hati Dalam Berjalan (Tawadhu')
  2. Membalas Kejelekan dengan Kebaikan
  3. Senantiasa Tahajud Dikeheningan Malam
  4. Takut terhadap Adzab Neraka Jahanam
  5. Tidak Berlebihan Dalam Membelanjakan Harta
  6. Memiliki TAuhid Yang Murni
  7. Tidak Membunuh Tanpa Alasan Yang Benar
  8. Tidak Berzina
  9. Tidak Bersumpah Palsu
  10. Tidak Melakukan Hal Yang Tidak Berguna
  11. Mengharapkan Keluarga Yang Baik
  12. Menuntut Ilmu dan Mengharapkan Taufiq dari Allah SWT.

Sunday, 26 April 2015

17 Motivasi Berinteraksi Dengan Al Qur'an



Abdul Aziz Abdur Rouf, Al Hafidz, Lc.

1. Langkah-Langkah Membangun Kemampuan Berinteraksi dengan Al-Qur’an

Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barang siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (Q.S. Al-Baqarah [2]:121)
Kita dan para pelajar sering mengeluh mengenai Al-Qur’an. Tak punya waktu untuk tilawah, tak lagi cukup muda untuk memulai tahfidz (menghafal), dan tak mampu tadabbur karena tak paham Bahasa Arab. Jika kita kurang berinteraksi dengan Al-Qur’an, akan lahir para intelektual yang hanya kaya ilmu tapi tanpa ruh. Ilmu yang tanpa ruh akan kehilangan fungsi utamanya. Fungsi utama ilmu adalah untuk mengantarkan manusia kepada pengenalan (ma’rifah) kepada Allah Swt.

Menurut Sayyid Qutb, berinteraksi dengan Al-Qur’an perlu disertai dengan aktivitas:
1.    Rajin membacanya.
2.    Rajin mengkaji isi dan ilmu-ilmunya.
3.    Hidup dalam kondisi di mana aktivitas, upaya, sikap, perhatian dan pertarungan sebagaimana kondisi di mana pertama kali Al-Qur’an diturunkan.
4.    Hidup bersama Al-Qur’an dengan sepnuh hati dan berkeinginan untuk melawan tradisi jahiliyah yang saat ini menyelimuti seluruh sendi kehidupan umat manusia.
5.    Membangun nilai-nilai Al-Qur’an di dalam diri masyarakat dan seluruh umat manusia.
6.    Siap menghadapi dan memberantas segala macam pemikiran jahiliyah serta seluruh tradisinya di dalam realitas kehidupan.

Adapun pertanyaan yang dapat menjadi bahan evaluasi kualitas interaksi dengan Al-Qur’an:
1.    Sudahkah kita beriman terhadap kebenaran Al-Qur’an, janji-janji yang ada di dalamnya, berbagai fadhillah yang dijanjikan Rasulullah Saw bagi orang yang rajin berinteraksi dengannya?
2.    Sudahkah kita mampu membacanya?
3.    Mampukah kita membacanya dengan baik sesuai dengan keaslian bacaan Al-Qur’an?
4.    Sudahkah kita membacanya secara rutin setiap hari? Kalau kita rajin dan konsisten membaca 1 juz per hari, artinya dalam setahun minimal 12 kali khatam. Para salafush shalih umumnya mampu khatam sepekan sekali, bahkan tiga hari sekali.
5.    Sudahkah kebiasaan membaca Al-Qur’an telah menambah bobot iman dan Islam kita? Sehingga tingkat loyalitas kita terhadap Allah Swt, Rasul-Nya dan Al-Qur’an semakin meningkat lantas menghasilkan energi yang membuat kita selalu siap berbuat apa saja untuk Islam ini?
6.    Adakah keinginan untuk melakukan kegiatan menghafal Al-Qur’an? 30 juz, 15 juz, 10 juz, 3 juz, atau sekedar 1 juz saja? Menghafal adalah upaya untuk menambah kedekatan dengan Al-Qur’an. Karena antara tilawah dan menghafal adalah 2 hal yang berbeda. Dengan menghafal, jiwa dan otak kita akan terus menyerap lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang diulang-ulang begitu banyak oleh lidah kita.
7.    Apakah kita merasa sedih dan penasaran jika ada ayat-ayat yang belum dipahami?
8.   Siapkah diri kita menjadi manusia yang Qur’ani seperti yang diungkapkan Aisyah Ra atas Rasulullah Saw bahwa tabi’at dan akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an?
9.   Ada iming-iming surga dan keselamatan dari neraka di akhirat kelak yang untuk mendapatkannya dibutuhkan pengorbanan jiwa dan harta untuk membela Islam (berjihad di jalan Allah), siapkah diri kita untuk merintisnya?

2. Sudahkah Anda Memiliki Iman yang Cukup untuk Berinteraksi dengan Al-Qur’an?

Apapun bentuk interaksi kita dengan Al-Qur’an membutuhkan modal utama berupa iman yang kuat kepada Allah Swt. Sebaliknya, kedekatan kita dengan Al-Qur’an merupakan indikator keimanan yang baik.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal. (QS Al-Anfal [8]:2)

Untuk merintis peningkatan keimanan, ada beberapa langkah yang dapat ditempuh sebagai berikut.
1.    Mulailah belajar tentang Islam.
Sadarilah bahwa Islam adalah agama pengetahuan. Belajar tentang Islam bagi orang beriman jangan pernah berhenti dan merasa selesai. Hal ini mengingat luasnya ilmu Islam itu sendiri dan beragamnya amal shalih yang harus kita lakukan, padahal setiap amal memerlukan ilmu dan iman tersendiri.
2.    Apalah arti ilmu jika tidak menghasilkan amal?
Artinya perlu mengamalkan ilmu yang telah dipelajari agar iman selalu meningkat. Di balik peningkatan iman akan tumbuh rasa ingin leih dekat dengan Al-Qur’an
3.    Mulailah dari amal shalih yang paling utama, yaitu shalat lima waktu.
Jika belum sanggup melakukannya, pelajarilah kembali Islam dan berdoalah kepada Allah Swt agar dibukakan pintu hidayah untuk dapat melaksanakan pintu hidayah untuk dapat melaksanakan shalat lima waktu dengan rutin. Bila sudah mampu, tingkatkan kualitasnya dengan berjamaah di masjid. Setelah mampu, tingkatkan kualitasnya dengan berusaha khusyu’.
4.    Setelah mampu shalat berjamaah di masjid dengan khusyu’, berusahalah untuk melaksanakan shalat dua rakaat sebelum dan sesudah shalat wajib (yaitu qabliyah dan ba’diyah). Tentu perlu dipelajari, pada shalat wajib mana kita tidak boleh melakukan shalat sunnah ba’diyah (yaitu Ashar dan Shubuh), serta mana yang muakkadah (yang sangat dianjurkan) dan mana yang bukan (karena tidak rutin dilaksanakan Rasulullah Saw).
5.    Pada tahap ini, bangunlah iman lebih tinggi dengan mulai mencoba shalat sunnah di waktu malam (tahajjud/qiyamullail). Bacalah hadits-hadits yang menjelaskan fadhillah shalat tahajjud agar kita lebih termotivasi. Jangan pernah mengatakan tidak mampu. Rayulah diri dengan memulainya dari hal yang sekecil-kecilnya, misal sebulan sekali, lalu dua kali, tiga kali dan seterusnya.
6.    Peningkatan iman berikutnya adalah dengan melaksanakan ibadah-ibadah yang qauliyah (yang diucapkan). Dapat berupa istighfar seratus kali sehari, membaca Al-Ma’tsurat (dzikir pagi dan petang yang dicontohkan Rasulullah Saw), membaca tasbih, tahmid, tahlil dan lain sebagainya yang mengacu kepada rujukan Riyadush Shalihin.
7.    Keimanan kepada Allah juga dapat ditingkatkan dengan melakukan berbagai amal kontributif, seperti infaq di jalan Allah, untuk fakir miskin, mengikuti dan mendukung kegiatan pembelaan atau penyebaran agama Islam dan lain-lainnya.
Kesucian jiwa juga merupakan modal mutlak dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Artinya perlu muhasabah (mengevaluasi diri sendiri): Apakah kita tidak tertarik untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an karena kondisi jiwa kita yang tidak cukup bersih untuk berdekatan dengan kitab sesuci Al-Qur’an? Jika jawabannya ya, tidak ada jalan lain kecuali bersegera untuk bertaubat kepada Allah, banyak berdzikir dan berdoa hanya kepada-Nya.

3. Belajar dari Mukmin yang Tinggi Semangat Berjihadnya

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah [9]:111)

Umumnya ayat tersebut sering dibahas berkaitan dengan motivasi berjihad di jalan Allah. Namun pada tulisan ini kami ingin mengajak kita semua untuk memahaminya dari sisi yang lain, yaitu yang menggambarkan keyakinan yang sedalam-dalamnya dalam diri orang -orang yang beriman terhadap nikmat dan keindahan surga. Keyakinan itulah yang memotivasi siapapun untuk bersusah payah dalam berjihad demi keyakinannya terhadap surga yang telah dijanjikan Allah Swt.
Beberapa mujahid yang keyakinannya terhadap surga begitu tinggi antara lain:

•    Abu Thalhah Ra, walau berusia 90 tahun tetap memacu dirinya untuk berjihad.
•    ‘Umair bin Al-Humam Ra yang segera menghentikan makannya karena tidak sabar ingin berjihad pada perang Badar.
•    Hanzhalah Ra yang segera bergegas berangkat berjihad sehingga lupa mandi junub, lalu ketika para sahabat melihat ada tetesan air keluar dari telinga jasadnya, Rasulullah menjelaskan bahwa jenazahnya telah dimandikan oleh para malaikat.
Dari manakah semangat juang luar biasa ini? Semangat itu berasal dari kerinduan terhadap surga yang dijanjikan oleh Allah Swt.
Jika saat ini kita telah dikaruniai oleh Allah kedekatan dengan Al-Qur’an – apakah dengan membaca, menghafal, mengajarkannya atau mengkajinya dan lain sebagainya – tantangannya adalah bagaimana bisa bertahan dalam karunia Allah Swt itu dalam kurun waktu yang panjang, bahkan sampai akhir hayat. Jawabannya adalah kembali kepada harapan apa yang selalu kita rindukan dari Allah Swt.
Bila saat ini kita aktif dalam kegiatan berinteraksi dengan Al-Qur’an, tanyakan pada diri kita masing-masing: keyakinan apakah yang sesungguhnya melatarbelakangi kegiatan ini sehingga harus dipertahankan sedemikian rupa? Jika belum ada, kita harus segera mencarinya. Berikut ini adalah beberapa contoh keyakinan di balik kegiatan bersama Al-Qur’an.
1.    Keyakinan sebagian orang yang sudah lanjut usia/hidup di kampung/jauh dari pengaruh ghazwul fikr dalam hidup dengan Al-Qur’an.
Hal tersebut berasal dari keyakinan mereka akan balasan pahala dan fadhillah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada orang yang ber-taqarrub dengan Al-Qur’an.
2.    Keyakinan para orientalis barat dalam mempelajari Al-Qur’an.
Jika mereka menguasai semua literatur Islam, mereka yakin akan lebih leluasa untuk memutarbalikkan nilai-nilai Islam dari nash-nash sesungguhnya, sehingga mereka bisa mengalahkan, menugasai dan menjajah umat Islam dalam kurun waktu yang lama.
3.    Keyakinan para Qori’ dalam meraih kejuaraan MTQ.
Berbekal keyakinan itulah, mereka begitu sabar dalam meraih apa yang mereka inginkan. Tantangannya adalah bagaimana menumbuhkan sebuah keyakinan yang dapat menghasilkan energi sekuat yang dimiliki oleh orang-orang tersebut di atas.
Ada sebuah realita pada sebuah komunitas yang paham tentang pentingnya Al-Qur’an dalam proses aktivitas da’wah dan tarbiyah, bahkan terlibat aktif di dalamnya namun minimdan lemah semangat dan keyakinannya dalam meraih kemampuan berinteraksi dengan Al-Qur’an. Bagi kelompok ini, baru menghafal juz 30 saja masih dirasakan sebagai beban yang nyaris tidak bisa dilaksanakan . Jika demikian halnya, lalu bagaimana dengan yang leih berat dan besar daripada itu? Semoga Allah Swt senantiasa menunjukkan jalan yang Ia ridhai untuk kita semua. Analisa dari fenomena tersebut adalah:
1.    Belum terbentuk suatu sistem kehidupan yang secara otomatis mendorong seseorang untuk melakukan apa yang diyakininya. Dalam proses tarbawi dan da’awi, seorang yang belum hafal 30 juz belum malu/merasa kurang. Demikian pula kemampuan berinteraksi dengan Al-Qur’an belum menjadi sesuatu yang sangat didambakan dalam kehidupannya.
2.    Belum ada penghargaan yang tinggi dari masyarakat terhadap orang yang lebih menguasai dan memiliki kemampuan ilmu tentang Al-Qur’an sehingga muncul suatu kesan “untuk apa bersusah payah berkecimpung di bidang Al-Qur’an jika masyarakat belum mengerti urgensinya?”
Masyarakat sekarang lebih menghargai penceramah -orang menyebutnya da’i selebritis, peny – yang hanya bermodal keberanian berbicara dan popularitas, dibandingkan dengan guru Al-Qur’an yang memiliki kekayaan pengetahuan tentang ayat-ayat Al-Qur’an.
Lemahnya motivasi untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an dan minimnya keyakinan terhadap fadhillah-nya adalah penghambat perkembangan pendidikan Al-Qur’an. menjadi tugas kitalah untuk mengubah kedua fenomena tersebut, agar masyarakat menjadi lebih dekat dengan Al-Qur’an dan memahaminya dengan baik.

4. Menjawab dengan Segera Waswas (Bisikan) Syaitan Saat Berinteraksi dengan Al-Qur’an

Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (QS. An-Nahl [16]:98)
Dari kesimpulan penafsiran Imam Ibnul Qayyim terhadap ayat di atas, dinyatakan bahwa tak ada pekerjaan manusia yang akan mendapat gangguan syaitan yang lebih besar dan dahsyat daripada kegiatan bersama Al-Qur’an. Godaan itu antara lain:
1.    Waswas syaitan bagi pengajar Al-Qur’an.
Godaannya adalah “Berhentilah mengajar Al-Qur’an karena kegiatan itu tidak menjanjikan kekayaan, melainkan hidup dalam kemiskinan!” Seakan-akan bahwa dengan mengajarkan Al-Qur’an, maka manusia akan menjadi miskin dan jika meninggalkannya akan menjadi kaya. Bila tiap pengajar tunduk dengan waswas tersebut, akan hancurlah umat ini karena semakin sedikit generasi berikutnya yang mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar.
Untuk mengatasinya, yakinilah bahwa pemberi rezeki sesungguhnya hanya Allah Swt, bukan manusia. Kemudian berpikirlah untuk mencari usaha yang halal, tanpa harus meninggalkan tugas mengajar Al-Qur’an. Perlu dijaga kesinergian antara 2 hal tersebut karena sama pentingnya di sisi Allah Swt dan jika dipadukan insya Allah akan memberikan keberkahan.
2.    Waswas syaitan bagi pembaca Al-Qur’an.
Godaannya adalah menunda-nunda bagian juz yang harus dibaca pada sebuah masa tertentu. Walaupun sudah mulai membaca, timbul waswas perasaan sudah terlalu lama bersama Al-Qur’an atau tiba-tiba tidak dapat berkonsentrasi, atau harus segera menyelesaikan tugas-tugas yang lain. Demikian pula waswas seakan-akan tidak ada wakut untuk tilawah Al-Qur’an.
Sebagai solusinya, carilah jawaban dari dalam diri sendiri, contohnya:
o    Kita kecam diri sendiri: “Mengapa untuk kegiatan yang lain tersedia waktu yang cukup sedangkan untuk bertilawah Al-Qur’an tidak ada waktu?” Persoalan sesungguhnya sebenarnya bukanlah ada-tidaknya waktu, tetapi adakah kemauan dari dalam diri kita untuk menyempatkannya atau tidak?
o    Bila tak mampu berkonsentrasi, berhentilah sejenak, tanyakan pada diri: “Sudah berapa lamakah kita ber-tilawah? Sudahkah kita merasa dinasehati oleh Allah dengan apa yang kita baca?” Jika belum, mulailah dengan konsentrasi baru dan memandang ayat-ayat Al-Qur’an sebagai pesan langsung dari Allah Swt kepada kita yang harus dihayati, dan jika tidak melakukannya maka kita rugi besar. Sekian tahun rajin membaca Al-Qur’an tetapi selama itu pula kita belum merasakan ruh dan nikmatnya Al-Qur’an.
3.    Waswas syaitan bagi penghafal Al-Qur’an.
Godaannya adalah bahwa aktivitas menghafal Al-Qur’an ternyata tidak seindah yang dibayangkan. Timbul rasa pesimis dalam menghafal. Sebetulnya hanya satu keinginan syaitan: “Berhentilah saat ini juga untuk menghafal Al-Qur’an!”
Sebagai solusinya, antara lain:
o    Kita tanyakan pada diri sendiri: “Apa motivasi yang terngiang saat dahulu mulai menghafal?” Beberapa motivasi yang mungkin menjadi jawaban antara lain:
  • Ingin membersihkan kehidupan masa lalu yang kotor dan kelam penuh maksiat, kegiatan menghafal Al-Qur’an menjadi bentuk taubatannasuha kepada Allah Swt.
  • Ingin mendalami agama Islam lebih jauh, sesuai ungkapan salafush shalih: “Tidak disebut seorang itu alim kecuali jika ia telah hafal Al-Qur’an.”
  • Ingin memanfaatkan masa remaja yang produktif dengan kegiatan yang dapat dikenang saat dewasa.
o    Segeralah bergaul dengan orang-orang yang sedang menghafal Al-Qur’an agar tidak merasa sendiri dalam ber-mujahadah dan bersabar dengan Al-Qur’an dan mengetahui bahwa begitu banyak orang yang lebih bersemangat dan tahan banting.
4.    Waswas syaitan bagi orang yang memahami Al-Qur’an.
Godaannya adalah berpindah-pindah kegiatan. Saat membaca tasfir malah ingin tilawah dan demikian pula sebaliknya. Lalu menyepelekan kegiatan yang satu karena larut dalam kegiatan yang lain, misal meremehkan orang yang menghafal karena sedang mempelajari sebuah tafsir dan meyakini bahwa hanya dengan mempelajari tafsirlah metode interaksi yang paling baik dengan Al-Qur’an. Beberapa solusinya antara lain:
o    Sadarilah bahwa hakikat interaksi dengan Al-Qur’an mencakup membaca, menghafal dan memahami, berniatlah membaca dan menghafal saat memahami Al-Qur’an. Jangan remehkan orang yang membaca dan menghafal saat kita memahami Al-Qur’an karena tiap kegiatan ada fadhillah-nya.
o    Sadarilah bahwa hakikat berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah harus memiliki waktu-waktu yang terbagi secara baku. Misal dalam satu pekan tiap hari tilawah, tiap tiga hari sekali membaca tafsir dan sehari sepekan menghafal. Jika bisa istiqamah, niscaya akan dirasakan perkembangannya dari segi wawasan, keimanan, pemikiran dan mentalitas. Pasti akan sangat berbeda jika dibandingkan dengan kegiatan berinteraksi dengan Al-Qur’an dalam bentuk membacanya saja.

5. Siap Bekerja Keras dan Berlama-lama Dalam Berinteraksi dengan Al-Qur’an

“Hudzaifah Ibnul Yaman menjelaskan pengalamannya dalam bermujahadah bersama Rasulullah. ‘Pada suatu malam aku shalat bersama Rasulullah mulai dengan membaca surah Al-Baqarah. Hatiku berkata, ‘beliau akan ruku’ pada ayat ke-100′. Namun kemudian beliau melanjutkannya. Hatiku berkata lagi ‘barangkali beliau akan menghabiskan satu surah kemudian ruku’. Ternyata beliau melanjutkannya dengan menghabiskan surah An-Nisa. Begitulah perasaanku selalu berkata. Ternyata beliau melanjutkannya dengan surah Ali ‘Imran. Tiga surah di atas (yang hampir sama dengan 5,5 juz) dibacanya dengan tartil. Jika membaca ayat yang terdapat perintah tasbih beliau bertasbih. Jika membaca ayat yang memerintahkan untuk berdoa beliau berdoa. Begitu juga jika ayatnya memerintahkan untuk meminta perlindungan, Rasulullah berdoa meminta perlindungan. Kemudian belia ruku’, dan ternyata panjang ruku’nya hampir sama dengan lama berdirinya. Begitu juga saat i’tidal dan sujud.” (HR. Muslim)
Bagaimana perasaan kita pada saat membaca hadits ini? Apakah terobesesi untuk mencobanya walaupun sekali seumur hidup? Atau kita menganggap hadits ini sekedar sekilas info saja dan kita pesimistis untuk bisa melakukannya? Padahal Allah telah memberikan kita berbagai macam daya dukung lahir dan batin. Al-Qur’an dan As-Sunnahlah yang dapat menjadikan kita mampu melaksanakannya.
Nilai tarbiyah yang terkandung di dalam kisah tersebut:
1.    Jika belum tergugah untuk melaksanakannya, berazzamlah untuk melaksanakannya walaupun  hanya sekali seumur hidup. Tabiat orang shalih adalah selalu ingin segera melaksanakan amal shalih, apalagi jika mala tersebut belum pernah dilaksanakan sebelumnya.
2.    Kekuatan dan keteguhan Rasulullah Saw dan para Shahabat dalam berda’wah dan berjihad serta memberikan kontribusi untuk Islam dan umatnya sangat ditentukan oleh kekuatan dan keteguhan dalam beribadah kepada Allah Swt dan beramal shalih dengan semua cabangnya.
Untuk dapat mencintai dan berinteraksi dengan Al-Qur’an diperlukan mujahadah sebagai berikut:
1.    Banyak beribadah, khususnya shalat.
Al-Qur’an adalah Kalamullah (wahyu Allah) sehingga jiwa yang tidak dekat dengan Allah Swt tidak akan sejalan dan menyatu dengan ruh Al-Qur’an.
Shalat menjadikan manusia terputus dari dunia luar dan hanya berkonsentrasi dengan bermunajat kepada Allah Swt, tentu akan memudahkan kita untuk mengerti ayat-ayat Allah Swt baik di dalam maupun luar shalat.
Jika ada seseorang yang banyak beribadah tetapi tidak memiliki kecintaan standar dengan Al-Qur’an maka perlu evaluasi terhadap kondisi ibadah orang tersebut dari segi legalitas syar’inya, keikhlasannya, dan pengetahuan tentang ibadah yang dilakukannya. Beribadah dan berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah satu paket aktivitas yang tidak terpisahkan. Untuk mencapai kondisi seperti ini, perlu mujahadah.
2.    Memperbanyak tilawah.
Dari hadits tadi, kita ketahui bahwa Rasulullah tilawah 5,25 juz. Bila 1 juz butuh 40 menit, artinya butuh waktu sekitar 3,5 jam. Aktivitas seperti ini tidak mungkin dilakukan manusia yang tidak terbiasa memperbanyak tilawah Al-Qur’an. Kalau ingin seperti Rasulullah Saw, perlu pemanasan, misalnya membiasakan diri shalat malam, berkomitmen untuk tilawah 1 juz per hari, memperbanyak khatam Al-Qur’an, banyak berdzikir kepada Allah Swt, banyak membaca kehidupan salafush shalih dalam beribadah dan lainnya.
3.    Bergaul dengan orang-orang yang mencintai Al-Qur’an
Bila sesuatu dilakukan beramai-ramai, tentu akan timbul semangat yang tidak akan didapatkan bila melaksanakannya sendirian. Bahkan Hudzaifah pun mungkin tak dapat berlama-lama jika harus melaksanakan shalat malam sepanjang itu bila tidak sedang bersama Rasulullah Saw.

6. Mendambakan Al-Qur’an Sebagai Kenikmatan Seperti Kita Mendambakan Harta

“Tidak boleh iri kecuali dalam dua kenikmatan: seseorang yang diberi Al-Qur’an oleh Allah kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, dan orang yang diberi harta oleh Allah lalu ia membelanjakannya di jalan Allah sepanjang malam dan siang.” (Muttafaqun ‘alaih)
Melihat orang yang hartanya berlimpah tentu membuat kitapun mendambakannya. Hal itu lumrah dan fitrah sekaligus fitnah bagi manusia. Tetapi percayalah bahwa keimanan yang baik tidak saja menjadikan manusia memimpikan kepemilikan dunia tetapi juga memimpikan dan menginginkan akhirat. Dengan iman, ketika melihat orang lain yang memiliki kelebihan dalam urusan akhiratnya – misalnya sangat baik interaksinya dengan Al-Qur’an, hafalannya banyak, rajin beribadah, serta banyak kontribusinya dalam dakwah – maka kita pun sangat mendambakannya.
Itulah ghibthah, menginginkan kenikmatan orang lain tanpa membenci dan mengharapkan hilangnya nikmat dari orang tersebut.

Berikut ini beberapa perasaan yang harus menjadi pertanyaan dan perhatian kita:

1.    Adakah perasaan iri (ghibthah) dalam diri kita ketika melihat saudara kita memiliki kemampuan berinteraksi dengan Al-Qur’an yang lebih baik? Ataukah hanya iri dan menginginkan sesuatu yang terkait dengan harta yang dimiliki saudara kita, tapi untuk Al-Qur’an hati kita adem ayem saja?
Jika demikian adanya, itulah bukti lemahnya syu’ur Qur’ani (perasaan ingin membangkitkan diri dengan Al-Qur’an). Para salafush shalih selalu berkompetisi dalam hal interaksi dengan Al-Qur’an dan hal ukhrawi. Telah menjadi tabiat manusia untuk berkompetisi, dan jika tidak diarahkan maka kompetisi tersebut akan cenderung ke hal-hal duniawi seperti harta, jabatan dan lawan jenis.
2.    Rasulullah Saw menjanjikan bahwa setiap orang beriman yang bersahabat akrab dengan Al-Qur’an dijamin akan mendapat syafa’at dari Al-Qur’an: “Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat menjadi pemberi syafa’at bagi orang-orang yang bersahabat dengannya.” (HR. Muslim).
Tanyakan pada diri kita masing-masing, sudahkan kita menjadi sahabat akrab Al-Qur’an? Benarkah di akhirat nanti kita berharap akan mendapat syafa’at dari Al-Qur’an? Alangkah sengsaranya kita bila di akhirat tanpa syafa’at, karena “…Tidak ada yang dapat memberi syafa’at kecuali atas seizin Allah…” (QS Al-Baqarah [2]:255)
3.    Kualitas iman kita diukur dengan sejauh mana kualitas dan kuantitas interaksi kita dengan Al-Qur’an.
Apakah kita masa bodoh dan tidak merasa sedih jika dalam sebulan tidak khatam Al-Qur’an? Adakah perasaan sedih jika kita tidak punya hafalan ayat-ayat Al-Qur’an?
Sudahkah kita karena awam dengan kandungan dan makna Al- ur’an?
Jika belum, dikhawatirkan bahwa kitalah yang disebut Rasulullah yang menjadikan Al-Qur’an sebagai mahjuran.

•  “Berkatalah Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an itu sesuatu yang diabaikan.’ “ (QS Al-Furqan [25]:30)
•  Pernahkah kita menghitung tentang berapa banyak informasi tentang hal-hal yang bersifat duniawi yang ada di kepala kita dibandingkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan Al-Qur’an? Jika tentang Al-Qur’an lebih banyak maka bersyukurlah, jika tidak maka bertaubatlah kepada Allah Swt dan segera upayakan untuk kembali kepada Al-Qur’an agar tidak dikecam Allah Swt:

4.    “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang tentang (kehidupan) akhirat mereka lalai.”
5.    Sabda Rasulullah Saw: “Barangsiapa yang belajar Al-Qur’an dan mengamalkannya akan diberikan kepada orang tuanya pada hari kiamat mahkota yang cahanya lebih indah daripada cahaya matahari. Kedua orang tua itu akan berkata, ‘Mengapa kami diberi ini?’ Maka dijawab, ‘Karena anakmu yang telah mempelajari Al-Qur’an’ “ (HR Abu Dawud, Ahmad dan Hakim)
Tidakkah hadits tersebut menggugah kita sebagai orang tua untuk memberi perhatian yang lebih pada anak dalam hal pendidikan Al-Qur’annya? Bagaimana mungkin seorang anak dapat mencintai Allah Swt kalau tidak dapat menikmati shalat dengan baik? Bagaimana mungkin dapat shalat dengan baik kalau kemampuannya dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, khususnya hafalan, lemah dan terbatas? Jangan sampai kita hanya kecewa bila anak tak mampu berbahasa Inggris atau menggunakan komputer tetapi santai saja dengan keterbatasannya dengan Al-Qur’an.
Isi Al-Qur’an sesungguhnya menjelaskan bagaimana semua urusan dunia itu bisa mengantarkan manusia kepada suksesnya urusan akhirat. Kita, memang tidak ingin menjadi orang yang dekat dengan Al-Qur’an hanya secara huruf-hurufnya saja tetapi jauh dari dari ruh Al-Qur’an itu sendiri, Insya Allah.

7. Melakukan Amal Shalih Sebanyak-banyaknya

“Mereka itu tidak sama. Di antara ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud. Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang yang shalih.” (QS Ali ‘Imran [3]: 113-114)
Berinteraksi dengan Al-Qur’an sesungguhnya merupakan dampak dari sekian banyak amal shalih yang telah kita lakukan. Antara Al-Qur’an dan amal shalih saling menimbulkan motivasi antara satu dengan yang lain. Hari-hari yang diisi tilawah satu atau dua juz tentu beda dengan yang tidak diisi dengan tilawah sama sekali. Perbedaan akan tampak dalam semangat shalat wajib dan sunnah, atau ketenangan dalam mengatasi berbagai permasalahan kehidupan.
Jika sepakat dengan cara berpikir tersebut, maka dapat dipastikan bahwa orang-orang yang memiliki kemampuan berinteraksi dengan Al-Qur’an akan memiliki kebiasaan beramal shalih, misalnya:

1.    Mencintai Masjid

Menurut surah At-Taubah [9]:18, kecintaan terhadap masjid harus dibuktikan dengan adanya indikasi ‘imarah (memakmurkan). Ketika Rasulullah Saw membaca ayat ini, beliau pun bersabda: “Jika engkau melihat seorang laki-laki mondar-mandir ke masjid, maka saksikanlah bahwa dia memiliki iman yang baik.” (HR Ahmad dan Turmudzi)
Kita sering mengeluh tak dapat berinteraksi dengan Al-Qur’an, padahal kita sendiri yang menciptakan kondisi itu. Buktinya adalah lemahnya hubungan kita dengan masjid. Dari shalat lima waktu yang seharusnya kita lakukan di masjid, kadang-kadang hanya dua atau tiga waktu saja yang kita lakukan di masjid. Keberadaan kita di masjid pun sangat singkat, datang menjelang takbiratul ihram dan keluar paling awal. Bayangkan berapa puluh amal shalih yang tertinggal dengan kondisi seperti itu. Sayang sekali bila kita tidak pernah merasakan suatu kerugian besar karena keterlambatan kita datang ke masjid.

2.    Banyak Berdzikir

Berdzikir kepada Allah Swt secara hati dan lisan dapat membangun kemampuan berinteraksi dengan Al-Qur’an. Rasulullah Saw bersabda: “Sebaik-baik dzikir adalah membaca Al-Qur’an”. Sudahkah amaliyah dzikir yang secara harian dilaksanakan oleh Rasulullah Saw kita amalkan secara rutin? Antara lain:
  • Dzikir ba’da shalat wajib terdiri dari tahlil 10 kali, tasbih, tahmid dan takbir masing-masing 33 kali.
  • Dzikir pagi dan petang yang dirangkum ‘ulama dalam Al-Ma’tsurat atau Al-Hisnul Muslim atau Al-Wirdul Latif
  • Dzikir dalam kegiatan seperti makan, minum, naik kendaraan, keluar masuk kakus dan lain sebagainya
 3.    Berkomitmen dengan Shalat Wajib dan Shalat Sunnah

Jika pelaksanaan shalat membutuhkan kedisiplinan, maka demikian pula halnya dengan berinteraksi dengan Al-Qur’an.

4.    Banyak Melakukan Shaum Sunnah

Orang yang sedang shaum akan mengisi sepanjang harinya dengan ketaatan kepada Allah Swt yang akan menghasilkan keterikatan yang kuat dengan Allah Swt lalu akan berdampak kepada pembersihan jiwa dan peningkatan kualitas maknawiyah.

5.    Rajin Ber-tilawah

Ber-tilawah berarti melatih kesabaran dan ketundukan jiwa untuk berlama-lama dengan Al-Qur’an. Kalau saja kita bisa rutin khatam sebulan sekali maka kita akan semakin stabil dan tidak mudah tunduk kepada hawa nafsu. Jiwa akan lebih tenang karena selalu tersibukkan dengan Allah Swt. Bila jiwa dalam kondisi ini, maka niscaya kita akan selalu siap dengan interaksi yang lebih memerlukan kesabaran yang lebih besar.
Semua amal shalih pada hakikatnya saling terkait, seperti shalat, tilawah, i’tikaf di masjid dan lain sebagainya. Jangan biarkan jiwa kita terus mengeluh mengenai susah dan beratnya berinteraksi dan bergaul dengan Al-Qur’an. Lakukanlah aksi, niscaya jarak menuju kepada yang kita cita-citakan akan semakin dekat. Insya Allah.

8. Berdoalah Sebanyak-banyaknya

“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.’ ” (QS Al-Mu’min [40]: 60)
Berdoa adalah lambang rasa rendah diri dan ketidakberdayaan manusia di hadapan Allah yang dapat menumbuhkan perasaan ubudiyah (penghambaan) kepada Allah Swt.
Rasulullah Saw menjelaskan masalah ini dalam sebuah hadits: “Tidaklah di atas bumi ini seorang muslim berdoa kepada Allah, kecuali Allah akan memberinya tiga hal:

(1) Allah akan memberinya sesuai dengan yang ia minta; (2) atau Allah akan menghindarkannya dari kejahatan yang setara dengan doanya, selama tidak berdoa dengan suatu dosa atau memutus tali silaturahmi. Seseorang bertanya, ‘kalau kita perbanyak doa’? Rasul menjawab: ‘Allah lebih banyak lagi’ (3) Dalam riwayat lain, Allah akan menyimpan untuknya pahala sesuai dengan doanya” (HR At-Turmudzi, Hasan Shahih).
Mungkin kita punya keinginan untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an tetapi berulangkali gagal dalam melakukannya, bahkan sekedar khatam sebulan sekali pun susah. Bila demikian keadaannya, artinya iman kita berada pada kondisi prihatin karena hari-hari kita sebulan penuh sangat minim diwarnai oleh Al-Qur’an.
Dalam kondisi itu, kalau kita sedih artinya insya Allah dapat memperbaiki diri, tetapi bila masa bodoh/mencari pembenaran artinya kita harus banyak belajar lagi tentang hakikat keimanan kepada Al-Qur’an. Sepantasnya kita khawatir kalau sampai umur kita habis tetapi belum tertarik untuk hidup ‘di bawah naungan’ Al-Qur’an.
Alangkah indahnya bila kita rajin berdoa, bukan cuma untuk urusan dunia, seperti harta dan yang lainnya melainkan seperti ini: “Ya Allah tolonglah aku agar dapat rajin membaca kitab suci-Mu, memahaminya, mentadabburinya dan mengamalkannya. Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah Engkau Maha Tahu apa yang ada di dalam diriku, yaitu suatu keinginan yang sangat kuat untuk hidup bersama kitab suci-Mu. Ya Allah Engkau yang memiliki kitab suci ini, Engkau Maha Kuasa untuk memberikan kepada siapa yang Engkau kehendaki kemampuan untuk hidup bersama kitab suci-Mu.”
Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1.    Meyakini bahwa doa kita pasti akan dikabulkan oleh Allah Swt, tidak tergesa-gesa meminta agar dikabulkan segera. Konsentrasikan pikiran kita kepada aktifitas berdoanya, bukan kepada dampak dan hasil dari doanya agar kita tidak diliputi oleh perasaan bahwa doa kita lama sekali terkabulnya.
2.    Mencari waktu yang dijanjikan bahwa doa akan lebih cepat dikabulkan, seperti saat selesai shalat wajib, antara adzan dan qamat, sepertiga akhir malam, saat wukuf di Arafah, sujud, dll.
3.    Melakukan berbagai macam tawassul berupa amal shalih yang mendahului doa untuk membangun kedekatan dengan Allah Swt terlebih dahulu agar pada saat berdoa hubungan kita menjadi istimewa. Bentuknya dapat berupa istighfar, bershalawat kepada Rasulullah Saw, shaum, khatam Qur’an dsb.
4.    Berdoa dengan ilhah (terus menerus dan ngotot). Kalau dalam urusan duniawi kita sudah terbiasa melakukannya, bisakah pula kita melakukannya dalam urusan akhirat?
5.    Ikuti semua aturan dan adab berdoa, mulai dengan memuji Allah Swt sebanyak-banyaknya, bershalawat kepada Rasulullah Saw, menghadap kiblat, dsb.
Berdoalah kepada Allah Swt sebanyak-banyaknya dengan khusyu, tawadlu dan penuh harap.

9. Mencari Figur Teladan

“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS Al-Qalam [68]:4)
Ketika iman kita semakin baik, tanpa terasa semakin banyak kebiasaan sehari-hari kita yang dipengaruhi oleh figur Rasulullah Saw yang kita cintai, kagumi, ikuti dan teladani. Figur seseorang dalam kadar tertentu biasanya sangat bermanfaat untuk menjadi sumber motivasi dan inspirasi dalam meraih suatu keinginan, termasuk untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Untuk itu, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah:
1.    Jangan sampai mempunyai sikap hanya mau beramal shalih jika figurnya ada di sampingnya, sebagaimana sikap membelotnya bani Israil ketika ditinggalkan Nabi Musa As untuk menerima wahyu dari Allah Swt. Mereka syirik kepada Allah Swt dengan menyembah patung anak sapi dari emas.
2.    Tidak boleh mengultuskan figur. Betapapun berhasilnya ia dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, dia tetap manusia biasa yang punya lupa dan khilaf. Kekecewaan terhadap figur dapat mengakibatkan futur yang mampu menghentikan amal. Fokuskan pandangan pada kelebihan seseorang, bukan orangnya. Kalau dia seorang penghafal Al-Qur’an maka fahamilah bahwa Allah Swt telah memberi kelebihan kepada hamba-Nya pada bidan tersebut sedangkan dalam bidang yang lain mungkin belum dikuasainya, karena kesempurnaan hanya milik Allah Swt.
3.    Mulailah mencari figur terjauh dan terdekat, mulai dari Rasulullah Saw, para Shahabat, Tabi’in, Tabi’it Tabi’in, dan orang-orang shalih setelah mereka hingga di sekeliling kita. Dengan berfigur kepada orang yang saat ini masih ada di sekitar kita, kita akan dapat melihat langsung sepak terjangnya, keikhlasannya, kontribusinya, kegigihannya dan lain sebagainya. Caranya bisa dekat dengan pribadinya, baik melalui tulisan, ceramah, maupun tilawahnya secara langsung maupun tidak.
4.    Manfaat figur hanya sebatas patokan dalam beramal. Jangan berharap lebih, tetaplah menjadi diri sendiri. Yang menjadi figur bagi Umar bin Khattab Ra adalah Rasulullah Saw, tetapi pada kenyataannya potret kehidupan mereka berbeda dan punya ciri khas masing-masing. Rasulullah Saw lembut sedangkan Umar Ra berwatak keras.
Jadi, hakikat berfigur kepada seseorang hanya sebatas kepada esensinya saja, tidak lebih.

10. Meraih Cita-cita dari yang Terdekat

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka.” (QS Al-Baqarah [2]:201)
Hakikat orientasi kehidupan seorang muslim tidak terlepas dari dua cita-cita besar di atas walaupun akhirat harus lebih diutamakan.

“Dan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal” (QS Al-A’la [87]:17)
Manusia memiliki sifat tergesa-gesa atau senang dengan yang disegerakan. Misalnya segera menerima gaji setelah bekerja, segera ada apresiasi dari lingkungan setelah beramal shalih, segera mendapatkan banyak pendukung ketika berdakwah, dan sebagainya. Yang demikian adalah contoh target jangka pendek yang dicita-citakan mu’min sebelum mencapai tujuan tertinggi, surga Allah di akhirat kelak.

Dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, kadang kita merasa berat dengan apa yang telah dan harus dilakukan sehingga hanya mampu terdiam tanpa melakukan apa-apa untuk meningkatkan kemampuan dari segi kuantitas dan kualitas. Sejak kecil, remaja hingga dewasa, tak ada tambahan hafalan Al-Qur’an yang berarti.
Salafush shalih beranggapan bahwa setiap mu’min pasti membutuhkan Al-Qur’an sebagai penyejuk hati dalam mencari ketenangan, ketentraman dan kenikmatan yang sejati. Untuk mendapatkan hal seperti itu, diperlukan usaha terkecil dan termudah untuk segera dimulai. Kalau belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, misal membedakan huruf shad, dlad, dla, coba targetkan dalam satu bulan untuk mengucapkan satu huruf shad saja sampai benar. Upaya yang dilakukan harus sungguh-sungguh seperti bertanya, mendengar kaset, membaca, talaqqi, atau melalui VCD tahsin tilawah.
Demikian pula dalam usaha menghafal Al-Qur’an, mulailah dengan yang termudah menurut ukuran kita. Dalam bulan ini kita targetkan hafal 1 halaman saja (sementara orang lain yang dikaruniai Allah Swt semangat dan kemampuan menghafal yang tinggi, satu halaman bisa dihafal dalam sehari). Namun bagi kita, itulah kemampuan yang paling pas dan paling mungkin untuk segera dilakukan.
Kiat tersebut dimaksudkan agar kita tidak dibebani perasaan berat, tak mampu, tak berbakat. Mungkin hal itu benar untuk seluruh Al-Qur’an, tapi jika untuk hafal 1 juz saja dalam 1 tahun? Sesungguhnya yakinlah, kita memiliki kemampuan itu.
Perlu dipahami, apakah keengganan jiwa kita untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an itu terhalang oleh kapasitas yang ada di dalam diri kita atau justru terhalang oleh kondisi jiwa kita yang belum dapat menikmati dan menghayati makna Al-Qur’an? Kalau karena kapasitas, latih diri seperti di atas, tapi kalau bukan, maka kita harus banyak bertaubat, beramal shalih serta berdoa agar Allah Swt membersihkan jiwa kita sehingga dapat menerima Al-Qur’an sebagai hidangan Allah Swt yang terlezat dalam kehidupan ini.

11. Jangan Merasa Takut Tidak Kebagian Rezeki

“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya apa yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.”(QS Adz-Dzariyat [51]:22-23)
Rezeki adalah sumber kehidupan manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, ada sebagian manusia yang walaupun rezekinya pas-pasan namun kehidupannya bahagia dan tenang (sakinah) karena mereka memiliki pemahaman yang benar tentang rezeki. Sementara tidak sedikit yang sebaliknya, gelisah, frustasi, bahkan mengalami penyimpangan aqidah karena kesalahan pemahaman tentang hakikat rezeki.
Penjelasan mengenai rezeki dari Al-Qur’an:
1.    Rezeki adalah sesuatu yang menjadi kepastian yang telah ditetapkan Allah Swt sehingga mustahil ada makhluk yang dapat hidup tanpa rezeki yang ditetapkan Allah Swt untuknya.
•  “Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allahlah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(QS Al-Ankabut [29]:60)
•  Rezeki tidak akan datang bila kita melakukan pelanggaran atau maksiat kepada Allah Swt. Bila ternyata kita melakukannya namun banyak mendapat rezeki, itu adalah istidraj (penguluran dari Allah Swt, tetapi kemudian akan dijatuhkan secara sangat menyakitkan dan mungkin tiba-tiba) dan tak akan pernah memberikan kenikmatan dan kebahagiaan bagi manusia yang memilikinya.
•  “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”(QS Al-An’am [6]:44)
•  Rezeki akan dimudahkan oleh Allah Swt dengan melakukan berbagai amal shalih dan ketaqwaan.
•  “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.(QS Ath-Thalaq [65]:2-3)
•  Rezeki adalah hak prerogatif mutlak Allah Swt dan urusan manusia hanyalah berusaha sehingga pantas bila kita memohon rezeki hanya kepada Allah Swt semata.

4.    “Kepunyaan-Nya lah perbendaharaan langit dan bumi, Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan(nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”(QS Asy-Syura [42]:12)
5.    Rezeki adalah sesuatu yang telah ditentukan kadarnya. Tidak akan berkurang karena kita dekat dengan Al-Qur’an, dan tidak akan bertambah bila kita jauh dari Al-Qur’an. Kita mestinya yakin bahwa semakin dekat kita kepada Allah Swt dan Al-Qur’an maka insya Allah akan dimudahkan rezeki oleh-Nya.
Kaitan antara rezeki dengan aktivitas berinteraksi dengan Al-Qur’an seringkali merupakan sesuatu yang dibuat-buat oleh manusia. Penyebabnya mungkin karena kurangnya sifat zuhud dan qonaah sehingga proses dan interaksi tersebut menjadi sangat memberatkan dan melelahkan jasmani dan rohani.
Kita dapat belajar dari sekeliling kita, rezeki manusia sepenuhnya ada di tangan Allah Swt, akan diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, tanpa pandang pendidikan, jabatan, dsb. Keyakinan tersebut akan muncul bila kita berada dalam ketaatan kepada Allah Swt. Bagi yang berdawkah di jalan Allah atau menjadi penghafal Al-Qur’an, tak ada kaitan antara perannya tersebut dengan luas dan sempitnya rezeki. Perasaan manusia dalam urusan rezeki sering dikotori godaan syaitan. Kuncinya: “bersabarlah”.

12. Kokohkan Tekad, Jangan Mudah Berubah Pikiran

“………Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya……”(QS Fushshilat [41]:6)
Sikap istiqamah dan istighfar memiliki hubungan yang sangat erat dan saling mempengaruhi. Dalam hal berinteraksi dengan Al-Qur’an, khususnya menghafal, sering ada gangguan yang menyebabkan kita berubah pikiran. Tadinya bersemangat dan sangat berkeinginan untuk menghafal Al-Qur’an, tiba-tiba kehilangan daya tarik untuk menyempurnakan keinginan menghafal Al-Qur’an yang selama ini diperjuangkan.
Kiat-kiat agar tak mudah berubah pikiran dan tetap memiliki keinginan yang terus hidup:

1.    Banyak berdoa kepada Allah Swt agar menetapkan dan meneguhkan hati kita, contohnya: “Ya Allah yang Maha Membolak-balik hati , tetapkan hatiku untuk terus menghafal kitab suci-Mu yang mulia”
2.    Menjaga dan memelihara lingkungan pergaulan. Bergaullah dengan para penghafal Al-Qur’an dan datangilah acara yang dihadiri para penghafal Al-Qur’an. Keinginan menghafal Al-Qur’an harus dipupuk bukan untuk dua atau lima tahun, tetapi untuk sepanjang hayat kita. Kita berharap saat bertemu dengan Allah Swt kelak, kita masih dalam kondisi terus mendekatkan diri dan berinteraksi dengan Al-Qur’an. Salah satu doa khatam Al-Qur’an:
“Ya Allah jadikanlah Al-Qur’an ini bagi kami selama di dunia sebagai teman yang selalu bersama kami, di kubur sebagai penghibur, di hari kiamat sebagai pemberi syafaat, di atas shirat sebagai cahaya, ke Surga sebagai petunjuk dan sahabat, dan dari neraka sebagai penghalang dan penolak.”
3.    Membaca terus menerus hal-hal tentang fadhillah berinteraksi dengan Al-Qur’an, janji syafaat di hari kiamat, sejarah manusia yang sukses hidupnya bersama dengan Al-Qur’an dari Rasulullah Saw hingga manusia saat ini. Misalnya karya Yusuf Qardlawi atau Mustafa Al-Ghazali mengenai bagaimana berinteraksi dengan Al-Qur’an.

13. Berlatih dengan Ekstrim

“Dan pada sebagian dari malam, maka bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.” (QS Al-Insan [76]:26)
Melatih diri untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an membutuhkan upaya-upaya yang ‘ekstrim’. Menurut kita sangat berat, padahal hal tersebut sudah biasa dilakukan para salafush shalih. Contohnya menghafal Al-Qur’an sebanyak enam ribu ayat dihafal luar kepala.
Contoh amalan lain yang dianggap ekstrim oleh manusia sekarang karena jarang dilakukan adalah:

1.    Melaksanakan shalat malam dengan durasi yang panjang. Untuk itu, sedikitkanlah tidur di waktu malam, banyaklah beristigfar, dan jauhkan lambung dari tempat tidur.
2.    Berjihad di jalan Allah Swt, walaupun kondisinya sangat berat.
3.    Mengubah suasana permusuhan dengan sesama saudara  menjadi suasana akrab dan hangat, membalas kejahatan dengan kebaikan.
“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik sehingga orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan menjadi teman yang sangat setia.”(QS Fushshilat [41]:34)
3.    Menjaga pandangan mata di mana saja dan kapan saja terhadap lawan jenis yang bukan mahram.
Bila kita benar-benar ingin berinteraksi dengan Al-Qur’an, mari kita sambut contoh-contoh yang ada di dalam Al-Qur’an atau sunnah dengan semangat yang tinggi dan latihan yang ‘ekstrim’:
1.     Berlatih khatam Al-Qur’an sebulan sekali, lalu dua puluh hari sekali, lalu sepuluh hari sekali, sepekan sekali, hingga tiga hari sekali. Latihan ini juga untuk melatih kesabaran, kekuatan dan keteguhan untuk mencapai keinginan. Ketika kita melakukan sesuatu yang maksimal maka kita akan melihat yang minimal menjadi suatu yang sangat mudah dan terjangkau. Jika ingin hafal 30 juz, minimak sehari harus membaca lima juz.
2.    Berusahalah menjadi makmum qiyamullail yang panjang, minimal tiga juz atau lima juz.
3.    Berusahalah melaksanakan shalat malam sendiri dengan melatih diri membaca satu, dua, lalu tiga juz dan seterusnya. Latih diri dengan membaca mushaf hingga mampu menegakkan qiyamullail tanpa membaca mushaf.
4.    Hadirilah acara yang mengakrabkan diri kita dengan Al-Qur’an sebanyak mungkin. Pada umumnya jiwa yang belum terkondisi oleh suasana Al-Qur’an cenderung ingin menjauh dari ayat-ayat Al-Qur’an baik dari sisi suara, kajian, dsb.
Dengan berbagai upaya tersebut, maka kita dipaksa untuk dapat menikmati Al-Qur’an dan insya Allah dapat membuktikan janji Rasulullah Saw bahwa Al-Qur’an bagaikan hidangan yang lezat dari Allah Swt.

14. Berbahagia Jika Kita Bersama Orang-orang Yang Sedikit

“Dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga). Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu. Dan segolongan sedikit dari orang-orang generasi terakhir.” (QS. Al-Waqi’ah [56]:10-14)
Kata qaliil (sedikit) di dalam Al-Qur’an banyak ditujukan kepada sekelompok manusia yang berkualitas dan memiliki kemampuan yang kuat dan keras untuk meningkatkan kualitas hidup, serta bersegera melakukan amal shalih. Contohnya mereka yang beriman kepada Nabi Nuh dan Nabi Musa yang persentase dan jumlahnya sangat sedikit.
Di balik niat untuk hafal 30 juz Al-Qur’an, kita perlu bertekad: “Aku siap bersama orang-orang yang qaliil“. Kita harus sabar, teguh, tak mudah putus asa karena apa yang akan diraih merupakan sesuatu yang besar dan berat perjuangannya dan tidak semua manusia siap untuk melakukannya.
Telah menjadi sunnatullah, bahwa sesuatu yang istimewa itu jumlahnya sedikit. Dari tujuh hari sepekan, hanya Jum’at yang istimewa, dari 12 bulan setahun hanya Ramadhan yang begitu istimewa, dari sekian jenis logam hanya emas yang paling diburu orang. Di balik sedikitnya orang yang siap untuk menghafal Al-Qur’an, kita perlu yakin bahwa kemuliaan dan keistimewaan itu adalah dari Allah Swt, bukan dari diri kita. Ucapan alhul jannah:
“Dan mereka berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada surga (ini). Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa kebenaran’. Dan diserukan kepaa mereka: ‘Itulah surga yang diwariskan kepadamu disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.”” (QS Al-A’raf [7]:43)

15. Jangan Merasa Takut Terhadap Keadaan Masa Depan

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami adalah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-Ahqaf [46]:13-14)
Bagi pribadi yang sedang mendekatkan diri dengan Al-Qur’an misalnya bertekad menjadi hafidz 30 juz, godaan yang sering menggelayuti adalah kekhawatiran terhadap masa depan, seperti maisyah, walimah, serta pertanyaan-pertanyaan bernada negatif yang lain. Ayat di atas menjelaskan bahwa tidak ada rasa takut dan sedhi bagi manusia yang berada di jalan Allah Swt. Ketika mau menghafal, motivasinya harus jelas dan motivasi itu harus terus diyakini.
Rasa takut dan khawatir biasanya disebabkan oleh mengambangnya visi dan misi serta kurangnya kepahaman terhadap bobot manfaat dari hafalan Al-Qur’an yang diperoleh. Tanpa disadari, perasaan kita telah dikuasai dan digelayuti oleh kecintaan berlebihan terhadap dunia. Seakan-akan kesuksesan itu hanya ditandai dengan uang dan materi yang banyak. Padahal kehidupan ini tidak terlepas dari sunnatullah bahwa setiap manusia ada yang diberi rezeki yang banyak dan ada pula yang mendapat sedikit – sekalipun keduanya sama-sama aktif mencarinya dan dengan jumlah jam yang sama pula.
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain, dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS As-Zukhruf [43]:32)
Peluang kehidupan yang baik tidak hanya dimiliki oleh orang-orang yang berduit saja. Berkacalah pada keadaan orang-orang yang berangkat berhaji. Ada yang hasil kerja keras, ada yang dari pemberian orang lain, ada pula yang dari hadiah dan lain sebagainya.
Begitulah potret kehidupan manusia, yang terpenting dalam memahami rezeki Allah Swt adalah melakukan berbagai macam upaya yang halal untuk meraihnya lalu bertawakkal kepada-Nya. Insya Allah kita akan hidup tenang dan tidak diperbudak oleh harta.
Langkah-langkah rinci:
1.    Yakinlah terhadap janji-janji Allah SWT kepada manusia yang senantiasa taat kepada-Nya dan isitqamah di jalannya bahwa Allah Swt telah memberi garansi kehidupan yang bahagia dan aman di dunia dan akhirat.
2.    Mantapkan keyakinan bahwa kita menghafal Al-Qur’an dengan satu cita-cita, yakni berdakwah di jalan Allah Swt.
3.    Berpikirlah untuk mencari maisyah yang sesuai dengan kondisi kita, yang dapat memadukan antara mencari rezeki dan melayani ummat. Usaha apapun yang berpegang pada prinsip tersebut insya Allah, Allah Swt akan memudahkan rezeki bagi kita.
4.    Bersikap qanaah terhadap rezeki Allah Swt, bersih dari sikap cinta dunia yang berlebihan dan sifat rakus.
5.    Memahami dengan baik hakikat ujian kehidupan dalam masalah rezeki. Artinya tidak setiap rezeki yang luas dan banyak didapatkan dan dirasakan oleh manusia berarti pasti menunjukkan kasih sayang Allah Swt kepadanya, demikian pula sebaliknya tidak setiap rezeki yang terbatas merupakan pertanda kebencian Allah Swt terhadap manusia.
“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS Al-Ankabut [29]:62)
Semoga kita dapat berkonsentrasi secara utuh dalam berkhidmah untuk Al-Qur’an Kalamullah tanpa di-was-was-i oleh kekhawatiran yang tak berdasar.

16. Jangan Suka Memvonis Diri

“Dan mereka berkata: ‘Hati kami tertutup’. Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk hati mereka karen keingkaran mereka. Maka sedikit sekali mereka yang beriman.” (QS Al-Baqarah [2]:88)
Sikap suka memvonis diri bertolak belakang dengan tawadlu untuk membuka diri terhadap dakwah. Ketika dakwah Rasulullah ditanggapi kaum Yahudi dengan “Saya tidak mungkin mampu menerima da’wah ini, karena hati saya sudah tertutup” berarti mereka bukan saja jauh dari hidayah Al-Qur’an bahkan Allah Swt melaknat sikap kufur tersebut dan mereka jauh untuk menjadi manusia yang beriman.
Berinteraksi dengan Al-Qur’an, apapun bentuknya – bertilawah, menghafal, mentadabburkan, mengajarkan atau memahaminya – tanpa didukung oleh keimanan yang memadai akan menyebabkan jiwa merasa berat, susah, repot, dsb. Keimanan yang telah Allah karuniakan kepada kita hendaknya dijadikan modal utama untuk dapat hidup bersama Al-Qur’an.
Ungkapan-ungkapan bernada pesimis yang keluar di alam bawah sadar kita akan menjadi suatu vonis yang “mematikan” dan menjadikan diri kita berada di dalam kondisi kelemahan total. Jangankan untuk melakukan upaya berinteraksi dengan Al-Qur’an, sekedar keinginan saja tidak mungkin terjadi dalam diri kita sekalipun kita sudah beriman.
Kita harus optimis dan membantah ungkapan-ungkapan tersebut agar keluar dari kungkungan ketidakberdayaan diri yang sesungguhnya berasal dari diri kita sendiri. Berikut contohnya:
1.    Bantahan terhadap vonis diri: “Ah, ana sih tidak bakat”
Berinteraksi dengan Al-Qur’an bukan masalah bakat atau tidak bakat. Ia adalah kebutuhan hidup orang beriman, sebagaimana tubuh butuh makan, minum dan tidur. Bakat biasanya berkaitan dengan keterampilan seperti menjahit, atau olah raga seperti juara bulutangkis. Mustahil kalau kita tak siap shalat 5 waktu dan tidak shaum karena alasan tidak bakat. Permasalahan sesungguhnya biasanya terkendala oleh pola pikir yang salah sehingga menghasilkan penyikapan yang salah pula.
2.    Bantahan terhadap vonis diri: “Ah, ana sih memang ditakdirkan gak bakalan mampu menghafal”
Takdir adalah kehendak Allah Swt. Dari mana kita tahu bahwa Allah Swt telah menghendaki kita untuk tidak dapat berinteraksi dengan Al-Qur’an? Kalau hanya dari perasaan, itu artinya berburuk sangka kepada Allah Swt. Seharusnya syaitan yang kita jadikan kambing hitam, dan kita berlindung kepada Allah dari godaan syaitan. Atau kemungkinan lain, karena kita terlalu banyak dosa dan jiwa kita terlalu jauh dari kesucian. Jika itu penyebabnya, bertaubat dan mohonlah ampunan kepada Allah Swt. Lengkapilah dengan banyak berdzikir dan beramal shalih agar Allah Swt memberi kekuatan kepada diri kita untuk bisa mengatasi rasa malas, futur dan tak bergairah terhadap Al-Qur’an.
3.    Bantahan terhadap vonis diri: “Bagaimana mungkin orang seperti ana yang sibuk seperti ini bisa menghafal Al-Qur’an”
Allah Swt menciptakan manusia dengan dibekali kemampuan yang sangat luar biasa untuk beradaptasi terhadap kehidupan. Artinya, sesibuk apapun kita, kalau kita mau dan bertekad kuat, insya Allah kita bisa melakukannya. Sudahkan kita mengakui bahwa berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidup ini? Kalau jawabannya ‘ya’ tetapi kita belum melakukannya artinya ada ketidaksesuaian antara hati dan lidah, entah hati yang berbohong atau lidah yang tak jujur.
Kita pasti akan menyempatkan diri untuk sesuatu yang kita anggap penting. Kalau menunggu “kalau sempat”, syaitan tak akan pernah membiarkan diri kita untuk sempat berinteraksi dengan Al-Qur’an. Kitalah yang harus menyempatkan diri, minimal 40 menit dari 24 jam per hari agar kita bisa khatam tiap bulan sekali.
Kalau kita mengakui kebenaran bantahan di atas, mulailah dari sesuatu yang paling mudah untuk dilakukan. Misal tilawah 5-10 halaman per hari, menghafal 1-1/2 halaman per pekan. Lalu perbanyaklah doa agar Allah Swt menolong kita untuk mampu dan bisa berinteraksi dengan Al-Qur’an dengan pola yang sebaik-baiknya. Semoga Allah Swt. melindungi kita dari hati yang dikunci mati karena kekafiran.

17. Merayu Diri Agar Mencintai Al-Qur’an

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku” (QS Al-Fajr [89]:27-30)
Ungkapan lembut tersebut adalah rayuan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang juga disertai ajakan yang provokatif. Bagaimana mungkin kita tidak tergiur dengan rayuan semacam itu?
Kita bisa bekerja dengan keras saat jiwa kita sedang asyik dengan Al-Qur’an. Tetapi di saat yang lain, kita mungkin mengalami kondisi keengganan yang besar, jangankan disuruh menghafal, sekedar melihat mushaf pun sangat tidak siap. Untuk kondisi seperti itu, kita perlu merayu diri sendiri, merenungi kehidupan diri kita sendiri sambil mencari bahasa apa yang dapat membangkitkan energi kita untuk kembali bekerja: meraih cita-cita hidup bersama Al-Qur’an.
Berbagai permasalahan umum pada diri kita saat berinteraksi dengan Al-Qur’an antara lain:

1.    Kita sadar sepenuhnya bahwa tilawah setiap hari adalah keharusan, tetapi jiwa kita belum siap untuk komitmen secara rutin sehingga dalam sebulan, begitu banyak hari-hari yang terlewatkan tanpa tilawah Al-Qur’an.
2.    Kita paham bahwa menghafal Al-Qur’an adalah kemuliaan yang besar manfaatnya, tetapi jiwa kita belum siap untuk meraihnya dengan mujahadah.
3.    Kita sadar bahwa masih banyak ayat yang belum kita pahami, namun jiwa kita tidak siap untuk melakukan berbagai langkah standar minimal untuk dapat memahami isi Al-Qur’an.
4.    Kita sadar bahwa mengajarkan Al-Qur’an sangat besar fadhillahnya, tetapi karena minimnya apresiasi dan penghargaan ummat terhadap para pengajar Al-Qur’an maka sangat sedikit yang siap menjadi pengajar Al-Qur’an.
5.    Kita paham bahwa shalat yang baik – khususnya shalat malam – adalah shalat yang panjang dan sebenarnya kita mampu membaca sekian banyak ayat, namun jiwa kita kadang tidak tertarik terhadap besarnya fadhillah membaca Al-Qur’an di dalam shalat.
6.    Kita sadar bahwa dakwah dijamin oleh nash Al-Qur’an dan Allah Swt akan memberikan kemenangan, namun jiwa kita tidak sabar dengan prosesnya yang panjang sehingga cenderung meninggalkan atau lari dari medan dakwah.
7.    Kita paham betul bahwa banyak keutamaan di dunia dan akhirat bagi manusia yang berinteraksi dengan Al-Qur’an, tetapi fadhillah tersebut hanya menjadi pengetahuan, tidak mampu menghasilkan energi yang besar untuk beristiqamah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.
8.    Kita paham dengan sangat jelas bahwa semua tokoh Islam di atas bumi ini adalah orang-orang yang telah berhasil dengan ilmu Al-Qur’an dan merekapun menguasai kehidupan dunia, namun jiwa kita enggan mempersiapkan generasi mendatang yang hidupnya berada di bawah naungan Al-Qur’an.
Jangan pernah berhenti untuk merayu diri agar segera bangkit. Tanyakanlah pada diri kita:
1.    Wahai diri, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Mengaku cinta kepada Allah Swt tetapi tidak merasa senang berinteraksi dengan Kalam-Nya. Bukankah ketika manusia cinta dengan manusia lain, ia menjadi senang membaca suratnya bahkan berulang-ulang? Mengapa kamu begitu berat dan enggap untuk hidup dengan wahyu Allah Swt? Adakah jaminan bahwa kamu mendapat pahala gratis tanpa beramal shalih? Dengan apa lagi kamu mampu meraih pahala Allah Swt? Infak cuma sedikit, jihad belum siap, kalau tidak dengan Al-Qur’an, dengan apa lagi?
2.    Wahai jiwaku, siapa yang menjamin keamanan dirimu saat gentingnya suasana akhirat? Padahal Rasulullah Saw menjamin bahwa Allah Swt akan memberikan keamanan bagi manusia yang rajin berinteraksi dengan Al-Qur’an, mulai dari sakaratul maut hingga saat melewati shirat.
3.    Wahai jiwaku, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Dengan nikmat-Nya yang demikian banyak, yang diminta maupun tidak, tidakkah kamu bersyukur kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an?
4.    Wahai jiwaku, sadarkah kamu ketika Allah Swt dan Rasulnya mengajak dirimu memperbanyak hidup bersama Al-Qur’an? Untuk siapakah manfaat amal tersebut? Apakah kamu mengira bahwa dengan banyak membaca Al-Qur’an maka kemuliaan Allah dan Rasul-Nya menjadi bertambah? Dan sebaliknya, jika kamu tidak membaca Al-Qur’an, kemuliaan itu berkurang? Sekali-kali tidak. Semua yang kita baca dan lakukan, kitalah yang paling banyak mendapatkan manfaatnya.
5.    Wahai jiwa, tidakkah kamu merasa khawatir dengan dirimu sendiri? Selama ini hidup tanpa al-Qur’an, jatah usia makin sedikit, tabungan amal shalih masih sedikit, jaminan masuk surga tak ada di tangan. Sampai saat ini belum mampu tilawah rutin satu juz per hari, jangan-jangan Al-Qur’anlah yang tidak mau bersama dirimu karena begitu kotornya dirimu sehingga Al-Qur’an selalu menjauh dari dirimu.
6.    Wahai jiwa, tidakkah engkau tergiur untuk mengikuti kehidupan Rasulullah Saw dan para sahabat serta tabiin yang menjadi kenangan sejarah sepanjang zaman dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an? Jika hari ini kamu masih enggan berinteraksi dengan Al-Qur’an apa yang akan dikenang oleh generasi yang akan datang tentang dirimu?
Ungkapan di atas adalah perenungan terhadap diri sendiri dalam urusan dunia dan akhirat, hal yang dianjurkan oleh Allah Swt agar hidup kita tidak berlalu begitu saja tanpa makna.
“….Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-nya kepadamu supaya kamu berpikir. Tentang dunia dan akhirat…” (QS Al-Baqarah [2]: 219-220)

Resensi Buku : ISTI'AB

Isti'ab
Meningkatkan Kapasitas Rekrutmen Dakwah
(Fathi Yakan)



Makna Isti’ab

Yang dimaksud dengan Isti’ab (daya tampung)  adalah kemampuan da’i untuk menarik obyek dakwah (mad’u) dan merekrut mereka dengan segala perbedaan intelektual, kejiwaan, status sosial dan lain sebagainya.

Tingkat kemampuan dalam isti’ab

Tidak dipungkiri bahwa para da’i seperti halnya manusia lainnya, memiliki tingkat kemampuan yang berbeda dalam isti’ab. Meski demikian da’i dituntut untuk memenuhi standar minimal dalam isti’ab, karena tanpa kemampuan ini tidak akan menjadi da’i dan aktivis di medan dakwah.

Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang  dengannya Allah mengutusku adalah bagaikan hujan yang turun ke bumi. Maka ada bagian bumi yang baik, ia menerima air hujan itu dengan baik lalu menumbuhkan tanaman dan rerumputan yang banyak. Ada juga bagian bumi yang menahan air, lalu Allah memberi manfaat kepada manusia dengan air tersebut, sehingga mereka bisa minum dan menyirami tanaman dari air tersebut. Bagian lainnya adalah padang tandus, ia sama sekali tidak bisa menyimpan air  dan juga tidak menumbuhkan apapun. Demikian itu perumpamaan orang yang diberi kepahaman dalam agama, lalu dia dapat memanfaatkan apa yang aku bawa itu, hingga dia senantiasa belajar dan mengajarkan apa yang ia pahami.dan perumpamaan orang yang sama sekali tidak  ambil peduli dan tidak mau menerima petunjuk Allah yang aku sampaikan” (HR Bukhori Muslim)

Isti’ab dan Keberhasilan Dakwah

Jika dakwah memiliki banyak dai yang mempunyai kemampuan istiab  untuk menarik masyarakat kepada islam dan pergerakan maka dakwah ini akan berhasil, jika disertai dengan syarat-syarat lain yang diperlukan.

Isti'ab Internal dan Eksternal

Istiab eksternal adalah kemampuan untuk penguasaan orang-orang yang berada di luar dakwah. Di luar pergerakan dan diluar organisasi atau orang yang belum bergabung.

Istiab internal adalah penguasaan terhadap orang-orang yang berada dalam organisasi. Yakni mereka yang telah tergabung dalam pergerakan atau jama’ah. Dua sisi ini saling melengkapi.Keduanya sangat penting dan sama-sama memerlukan kemampuan yang tinggi untuk menguasainya.

Isti’ab Eksternal

1. Kefahaman tentang Agama

Sesungguhnya ketertarikan masyarakat terhadap Islam pertama kali merupakan asas dan jalan yang benar yang menjadikan mereka muslim dan teguh dengan keislamannya dalam kondisi apapun, sedangkan jika ketertarikan tersebut hanya karena tertarik pada suatu pergerakan, maka wala’ yang akan diberikan juga untuk pergerakan itu dan bukan untuk islam.
Pada hari ini Islam mendapat ujian dengan adanya para da’iyang mengajak masyarakat untuk bergabung ke dalam berbagai pergerakannya padahal seharusnya ia mengajak kepada Islam. Ia menjelaskan kelebihan-kelebihan pergerakannya padahal seharusnya menjelaskan kelebihan-kelebihan islam.

Mendobrak pemikiran dan kejiwaan lebih susah dibandingkan mendobrak pos penjagaan

2. Keteladanan yang baik

Seseorang yang mengajak untuk berakhlak yang mulia , sedang akhlaknya sendiri tidak terpuji, maka tidak akan ada orang yang mau merespon dakwahnya, justru masyarakat akan menjauhinya.

” Hai orang-orang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat ? amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (Ash-Shaff :2-3)

Perumpamaan orang  yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain dan melupakan dirinya bagaikan lilin yang menerangi manusia dan membakar dirinya sendiri (HR Thabrani)
  
3. Kesabaran

Untuk merekrut dan mempengaruhi masyarakat dibutuhkan kesabaran bukan kejengkelan dan kepicikan. Hal ini disebabkan manusia memiliki kondisi kejiwaan yang bermacam-macam, memiliki kekurangan yang beragam, memiliki tabiat yang berbeda-beda. Dan memiliki kepentingan yang berlainan. Belum lagi problematika dan keprihatinan yang ada. Semua itu membutuhkan seseorang yang mampu menampungnya.

Di lain pihak hidayah tidak akan masuk ke dalam jiwa orang sekaligus, ia memerlukan usaha yang terus-menerus hingga mencapai tingkat yang diinginkan . ini semua membutuhkan kesabaran.

4. Santun dan Lemah Lembut

Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. Ali Imran 159

5. Memudahkan tidak mempersulit

Manusia memiliki karakter, kemampuan dan daya tahan yang berbeda-beda. Apa yang bisa dilakukan oleh seseorang belum tentu bisa dilakukan oleh orang lain. Apa yang cocok untuk seseorang belum tentu cocok untuk orang lain.

"Berjalanlah dengan menenggang perjalanan orang yang paling lemah diantara kalian". (alhadits)

"Mudahkanlah dan jangan mempersulit, senangkanlah mereka dan jangan membuat mereka lari" (HRBukhori Muslim)

"Sebaik-baik orang mukmin adalah orang yang mudah untuk jual beli, mudah dalam memutuskan perkara dan mudah dalam menagih hutang" (HR Tabrani)

6. Tawadhu’ dan merendahkan sayap

Sesungguhnya orang yang aku cintai adalah orang yang paling baik akhlaknya, yang merendahkan sayap, yang mau menghimpun, dan mau dihimpun. Sedangkan yang paling aku benci adalah orang yang mengadu domba, yang memecah belah orang-orang yang saling mencintai, dan mencari cari aib orang yang tidak berdosa (HR Tabrani)

7. Muka yang berseri-seri dan perkataan yang baik

Termasuk sifat yang dapat menyebabkan terbukanya hati masyarakat, sehingga mereka mau mendekat dan menerima apa yang disampaikan adalah muka yang selalu berseri-seri dan perkataan yang baik.

8. Dermawan dan berinfaq kepada orang lain

Kedermawanan dengan materi menunjukkan kelapangan jiwa, sebaliknya orang yang kikir menunjukkan kekerdilan jiwa.

a.  Islam mewajiblkan memuliakan tamu
b.  Memberi hadiah kepada orang lain termasuk akhlaq islami
c.  Menyantuni anak yatim dan fakir miskin, memperhatikan hak tetangga

9. Melayani orang lain dan membantu keperluan mereka

Monday, 20 April 2015

Resensi Buku: Menuju Jama'atul Muslimin


Menuju Jama'atul Muslimin

Buku ini (Menuju Jama'atul Muslimin) berasal dari tesis yang diajukan oleh penulisnya untuk meraih gelar Master (M.A.) di Universitas Islam di Madinah Munawwarah dengan bimbingan Dr. Mahmud Ahmad Mirah dan diuji oleh para Masyayikh dan ulama. Dengan demikian buku ini memiliki bobot ilmiah yang sudah teruji dan dapat dipertanggungjawabkan. Membahas secara sistematis sistem jamaah dalam gerakan islam; dengan menelusuri proses terbentuknya Jama'atul Muslimin yang pertama di masa Rasulullah saw. beserta rambu-rambu dan tabiat jalan menuju kepadanya. Kemudian memperbandingkannya dengan jamaah -jamaah yang muncul di lapangan pada masa sekarang (Jama'ah Anshorus-Sunnah al-Muhammadiyah di Mesir, Hizbut-Tahrir di Yordania, Jama'ah Tabligh, dan Ikhwanul Muslimin).

Buku ini terdiri dari tiga bab utama.

Bagian pertama menjelaskan mengenai Struktur Organisasi Jama’atul Muslmin.
Sebelumnya, mengenai konsep jama’ah, dijelaskan bahwa jama’ah diartikan dengan sejumlah besar manusia atau sekelompok manusia yang berhimpun untuk mencapai tujuan yang sama. Dijelaskan berdasar pada tinjauan syari’at Islam yang menunjukkan betapa pentingnya wujud jama’atul muslimin, dimulai dengan pembahasan mengenai umat Islam, baik menurut bahasa maupun berdasarkan letak geografis.

Menurut bahasa, Umat Islam mempunyai banyak arti diantaranya kaum, jama’ah, dan golongan manusia. Pengarang al Mufradat fi Dalalatiha al-‘Arabiyah mengartikan umat adalah setiap jama’ah yang disatukan oleh sesuatu hal; satu agama, satu zaman, atau satu tempat. Baik faktor pemersatu itu dipaksakan ataupun berdasarkan atas pilihan.

Sedangkan berdasarkan secara geografis, titik tolak pembebasan tanah air umat Islam dimulai dari kawasan Darul ‘Adl yaitu Darul Islam. Negara yang bisa disebut sebagai negara Islam yang sebenarnya ialah negara yang dikuasai oleh kekuasaan negara keadilan (darul ‘adl) yaitu negara yang menegakkan Islam dan melindungi hukum-hukumnya serta dipimpin oleh seorang khalifah pemegang imamah. Batas-batas tanah air Islam ini meluas sesuai dengan meluasnya kekuasaan darul ‘adl, meliputi negeri-negeri darul Islam secara umum. Selanjutnya, pemerintahan-pemerintahan Islam ini seluruhnya harus tunduk kepada satu pemerintahan pusat yang dikepalai oleh seorang imam. Jika negeri-negeri itu tidak diperintahkan dengan syari’at Allah oleh para penguasa Islam, serta tidak tunduk kepada satu kekuasaan pusat, maka tidak bisa disebut darul ‘adl. Batas-batas bagi negara Islam dan tanah airnya meliputi seluruh belahan bumi. Setiap belahan bumi yang tidak diperintah dengan Islam, maka merupakan negeri yang dirampas dan harus dikembalikan kepadanya.

Umat Islam mempunyai akar sejarah yang sangat tua yakni sejak pertama manusia di atas bumi hingga datang penutup para Nabi dan Rasul, Muhammad saw. Umat ini, sepanjang sejarahnya telah menempuh dua periodisasi yakni, pertama sebelum diutusnya Muhammad saw dan kedua dimulai dengan Muhammad saw. Pada periode ini da’wah mulai beralih dari kerangka kekauman yang terbatas, kepada kerangka kemanusiaan yang bersifat umum. Ummat Muhammad yang meliputi segenap manusia terbagi menjadi dua, yakni ummat yang menyambut dan menerima da’wah Rasulullah dan menyatakan diri masuk Islam secara kaffah. Golongan ini disebut sebagai umat yang menerima da’wah. Kedua yakni golongan yang tidak mau menerima da’wah Muhammad saw, dan tidak masuk Islam secara kaffah. Golongan ini menjadi ummat yang harus dida’wahi.

Karakteristik umat Islam dan sendi-sendi utama umat Islam adalah aqidahnya yang bersih dari segala bentuk kemusyrikan, universalitas dan integralitas aqidah, Rabbaniyah, kesempurnaan, keterbatasan dari kekurangan, kepertengahannya, dan fungsinya sebagai saksi atas manusia. Adapun unsur kesatuan ummat Islam adalah kesatuan aqidah, kesatuan ibadah, kesatuan adat dan perilaku, kesatuan sejarah, kesatuan bahasa, kesatuan jalan, kesatuan dustur, dan kesatuan pimpinan.

Selanjutnya dibahas mengenai urgensi syura sebagai lambang tertinggi yang darinya lahir berbagai kebijaksanaan sebagai manifestasi political will umat Islam. Sejalan dengan itu tak mungkin diwujudkan sebuah syura meliputi seluruh umat tanpa adanya imamah atau sistem kepemimpinan. Imam menurut bahasa ialah setiap orang yang dianut oleh suatu kaum, baik mereka berada di jalan lurus atau sesat. Ar Razi dalam tafsirnya mendefinisikan Imam yaitu setiap orang yang diajdikan teladan dalam masalah agama. Berdasarkan ayat-ayat al Qur’an dan pendapat para ulama bahasa, tafsir, dan aqidah, jelas semuanya sepakat bahwa imam adalah lafazh yang berarti kepemimpinan tertinggi di antara mereka; ke atas pundaknya diletakkan tanggung jawab kebaikan mereka dalam agama dan dunia. Imam Mawardi menyebutkan tujuh orang yang layak menjadi imam harus memenuhi persyaratan berikut, yakni ‘adalah (bermoral Islami) berikut semua persyaratannya, ilmu yang dapat mengantarkan kepada ijtihad dalam berbagai kasus dan hukum, sehat panca indera seperti pendengaran, penglihatan, dan lisan, supaya dapat mengetahui sesuatu secara langsung, tidak memiliki cacat anggota badan yang akan menghalangi kesigapan gerak dan kecekatan kerja, mempunyai pandangan yang dapat membawa kepada kebijakan rakyat, memiliki keberanian dan kegigihan untuk melindungi kawan dan memerangi lawan, berketurunan dari Quraisy. Mengenai syarat yang ketujuh ini, para ulama masih memperselisihkannya. Namun banyak hadits yang menunjukkan kemungkinan munculnya khilafah dari selain Quraisy, sekaligus merupakan khilafah yang sah (syar’i) dalam umat Islam di mana seseorang tidak boleh keluar darinya karena hanya bukan dari Quraisy.

Dengan segala karakteristik positifnya telah terbentuk, ditambah lagi dengan adanya lembaga syura yang berjalan di dalam kerangka sebuah imamah, berarti pada saat itulah sebuah jama’atul muslimin telah eksis dengan segala makna hakikatnya.

Tujuan Jama’atul Muslimin, yakni terdiri dai tujuan khusus bagi umat Islam, yakni, pembentukan pribadi-pribadi muslim, pembentukan rumah tangga muslim, pembentukan masyarakat muslim, penyatuan umat. Adapun tujuan umum, yakni agar seluruh manusia mengabdi kepada Allah swt, agar senantiasa memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, agar menyampaikan da’wah Islam kepada segenap umat manusia, agar menghapuskan fitnah dari segenap muka bumi, agar memerangi segenap umat manusia sehingga mereka bersaksi dengan persaksian yang benar.

Adapun bagian kedua buku ini yakni membahas jalan menuju jama’atul muslimin.
Bagian ke dua ini diawali dengan pembahasan mengenai hukum Islam, karena berdirinya jama’atul muslimin erat kaitannya dengan hukum-hukum Islam tersebut. Sejak da’wah Islam dibawah pimpinan Rasulullah saw mulai digelar di Makkah, turunlah pengarahan-pengarahan Rabbani sesuai dengan keperluan jama’ah dan tuntutan tahapan yang dihadapi oleh jama’ah. Dalam kaitannya dengan jama’ah Islam yang sedang berupaya menegakkan kembali Jama’atul Muslimin dalam kehidupan umat Islam, pengarahan Rabbani dan sunnah Nabawiyah telah diturunkan secara sempurna. Sehingga setiap muslim dan jama’ah Islam dituntut melaksanakan seluruh pengarahan Rabbani dan sunnah Nabawi secara utuh.

Hukum Islam dari segi hakikat dan caranya terbagi dua, yakni substansi hukum dan cara pelaksanaan hukum. Kedua bagian hukum ini, dari segi pelakunya, terbagi dua, yakni hukum-hukum yang khusus bagi Muslim sebagai individu dalam umat Islam, dan hukum-hukum yang khusus bagi jama’ah sebagai jama’ah dari umat Islam. Jama’ah umat Islam adalah kelompok atau golongan yang membawa da’wah untuk menegakkan Jama’atul Muslimin pada masa ketiadaannya.

Ajaran Islam bersifat syaamil - kamil - mutakamil (menyeluruh - sempurna - dan saling menyempurnakan). Oleh karena Muslim memiliki kemampuan sektoral dan terbatas, tidak mungkin Islam akan tegak secara utuh manakala kaum Muslimin menerapkannya secara individual, namun harus diterapkan secara jama’i (kolektif). Jika Jama’atul Muslimin kita nyatakan tidak ada di masa sekarang ini, maka harus diupayakan jalan menuju terbentuknya Jama’atul Muslimin yaitu dengan adanya jama’ah dari sebagian umat Islam (jama’atun minal Muslimin) yang mengupayakan perwujudannya.

Rasulullah saw sejak masa-masa pertama diturunkan wahyu Ilahi menyadari bahwa tugas mulia ini tidak mungkin dapat dilakukan oleh satu orang manusia tetapi memerlukan suatu jama’ah yang kuat. Dalam perjalanan kepada Rabb-nya, Nabi Ibrahim as mengumumkan hakikat yang merupakan syarat kemenangan da’wah ini, yaitu menegakkan jama’ah yang akan membawa da’wah dan membelanya. Jika jama’ah ini tidak tegak, maka tidak akan pernah kemenangan dagi da’wah. Hakikat ini pun telah dipahami Rasulullah saw sejak awal masa da’wahnya. Dan hakikat ini pula yang harus dipahami oleh setiap da’i Islam. Rasulullah saw mengungkapkan pentingnya jama’ah ini bagi keberhasilan da’wah, dan menyatakan bahwa jama’ah inilah yang akan menentukan eksis atau tidaknya da’wah Islam. Jika telah jelas hakikat ini dari Sirah Rasulullah saw dan kewajban ini pun telah dipahami oleh para da’i Islam, maka setiap Muslim yang menyadari kewajiban da’wah Islam atas dirinya dan ingin bergerak untuk da’wah ini, wajib menjadikan langkah pertamanya dalam kehidupan ini sebagaimana langkah Rasulullah, yaitu mencari jama’ah, atau mewujudkannya, untuk membantunya melaksanakan kewajiban da’wah yang amat berat tersebut.

Adapun rambu-rambu dari sirah Nabi dalam menegakkan jama’ah berisi enam karakteristik pokok sebuah jama’ah yaitu:

1. Menyebarkan prinsip-prinsip da’wah
Dalam tahapan ini Rasulullah menempuh dua jalan yakni dengan melakukan kontak pribadi, seperti dilakukan Beliau kepada Khadijah ra dan Ali bin Abi Thalib. Dakwah Islam perlu menempuh jalan ini dalam keadaan permulaan da’wah dan pada saat pemerintah yang berkuasa melarang para aktivis da’wah melakukan aktivitas da’wah secara terang-terangan. Jalan selanjutnya yakni melakukan kontak umum. Cara ini disebut tahapan da’wah secara terang-terangan.

2. Pembentukan da’wah
Pembentukan (takwin) da’wah ini merupakan tindak lanjut dari rambu pertama Sirah Rasulullah saw baik dalam kontak pribadi maupun kontak jama’i. Sisi penataan dalam pembinaan jama’ah kadang berlangsung pada tahapan iitishal fardi (kontak priadi) pada rambu pertama, yaitu tahapan sirriyah, dan kadang berlangsug pada tahapan ittishal jama’i (kontak umum) atau kadang berlangsung pada kedua tahapan tersebut.

3. Konfrontasi bersenjata terhadap musuh da’wah
Karakter rambu pertama adalah membagi manusia menjadi dua bagian kelompok pertama, kelompok yang menerima prinsip-prinsip da’wah, menjadi bagian dari rambu kedua, yaitu harus dibina dan dibentuk denagn prinsip-prinsip da’wah, sedangkan kelompok kedua, yakni kelompok yang menentang prinsip-prinsip da’wah menjadi bagian dari rambu ketiga, yaitu harus dihadapi dengan kekuatan senajta agar mereka mau menyerah kepada kekuatan da’wah. Hal itu dilakukan setelah ditegakkan hujjah yang nyata atas mereka pada rambu pertama, berupa penyebaran pikiran-pikiran dan ajaran-ajaran da’wah. Fungsi rambu ketiga ini ialah mempertahankan kelompok yang masuk ke dalam takwin.

4. Sirriyah dalam kerja membina jama’ah
Faktor-faktor yang menjamin keberlangsungan proses pembinaan jama’ah meliputi tiga hal, yakni sirriyah dalam gerak pembinaan jama’ah, bersabar atas segala kesulitan, dan menghindari konfrontasi melawan kebatilan dalam dua tahapan awal yakni penyebaran dan takwin. Maksud sirriyah dalma kerja membina jama’ah ialah membatasi pengetahuan program kerja pada lingkungan pimpinan. Setiap individu dalam kerja sirri ini tidak boleh mengetahui tugas anggota lain, tetapi harus mengatahui tugas pribadinya. Sirriyah merupakan “kotak” tempat menyimpan program amal jama’i dan “tirai” yang menutupi dan melindungi program tersebut. Sirriyah adalah suatu prinsip yang sangat penting dan harus dipegang teguh sepanjang gerakan pembinaan jama’ah, terutama pada tahap-tahap pertama, agar tidak dipukul dalam usia bayi. Sirriyah hanya menyangkut aspek penataan (tanzhim) saja, bukan menyangkut aspek pemikiran atau nilai-nilai Islam yang harus dikemukakan. Para da’i harus memperhatikan rambu ini dan mengutamakannya dalam gerak mereka. Karena ia merupakan “kunci” keamanan yang akan melindung amal jama’i dari intaian mata-mata musuh yang mengawasinya.

5. Bersabar atas gangguan musuh
Di antara faktor terpenting yang dapat melindungi struktur jama’ah pada tahapan takwin ialah kesabaran seluruh anggoa jama’ah dan keberhasilan meredam emosi dalam menghadapi setiap gangguan dan ejekan musuh. Berulang-ulangnya perintah bersabar pada ayat-ayat Makiyah, menunjukkan pentingnya sifat ini dalam memelihara eksistensi jama’ah, terutama pada tahapan takwiniyah.

6. Menghindari medan pertempuran
Kitman (perahasiaan) dan sabar belum cukup untuk melindungi jama’ah dari gangguan, karena perbedaan kemampuan manusia dalam menerapkan kedua hal tersebut. Juga karena sebagian besar ajaran Islam pasti akan nampak pada para pelakunya dalam bentuk sikap dan perilaku. Karena itu, pimpinan yang bijaksana segera membuat faktor yang lebih aman untuk melindungi jama’ah tersebut. Dengan terpeliharanya eksistensi jama’ah maka akan tercapai kemenangan Islam dan tersebar ajaran-ajarannya. Tetapi jika jama’ah ini hancur, akan mengakibatkan bekunya hukum-hukum Islam dan terhapusnya ajaran-ajarannya. Menjauhi medan pertempuran dalam tahapan takwiniyah merupakan upaya perlindungan bagi pelaksanaan ibadah kepada Allah.

Setelah penjelasan mengenai rambu-rambu jalan menuju terbentuknya Jama’atul Muslimin, berikut dijelaskan tabiat jalan tersebut, yakni jalan ujian dan cobaan. Tabiat jalan ini telah banyak disimpulkan menjadi dua kategori, yakni jalan kebaikan dan keburukan. Tujuan tabiat jalan ini adalah membentuk manusia yang baik melalui perbuatan-perbuatannya, agar dengan demikian pergerakan manusia di atas bumi ini pun menjadi baik. Roda pergerakan manusia di permukaan bumi ini tidak mungkin dapat berjalan seperti yang diinginkan Allah kecuali jika diambil dan dipegang oleh tangan-tangan yang telah digembleng dengan tarbiyah yang dikehendaki Allah, dan tidak mungkin dapat mengetahui ‘tangan-tangan’ yang layak tersebut kecuali setelah melalui berbagai ujian saringan. Ujian-ujian itulah yang disebut tabiat jalan. Dan tangan-tanagn yang layak itulah yang ditetapkan sebagai tujuan dari tabiat jalan yang penuh berkah ini.

Pada bagian ketiga, penulis membahas mengenai jama’ah-jama’ah terpenting yang aktif di medan da’wah Islam. 
Perjuangan Islam setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, dilakukan melalui perjuangan individual (amal fardi) dan melalui per-juangan kolektif (amal jama’i). Ditinjau dari tujuannya, perjuangan kolektif terbagi dalam beberapa bagian, yakni:
a. Perjuangan kolektif yang tujuannya langsung menegakkan khilafah.
Kelompok ini antara lain, Hizbut Tahrir, Da’wah Ikhwanul Muslimin, Partai Masyumi.
b. Perjuangan kolektif yang tujuan langsungnya da’wah sosial,budaya, dan sufi.
Kelompok ini antara lain Anshar as-Sunnah, Jama’ah Tabligh
c. Perjuangan kolektif yang sudah bubar, sementara yang lain tetap dapat mempertahankan diri.

Dalam pembahasan selanjutnya dibahas mengenai empat kelompok jama’ah sebagai contoh pembahasannya, masing-masing memiliki kecenderungan yang berbeda. Dalam kaidah penilaian atas jama’ah-jama’ah Islam, kriteria yang menjadi referensi dalam penilaian terhadap organisasi tersebut adalah Islam. 
Dengan Islam ditinjau tujuan-tujuannya, sarana-sarana untuk mencapai tujuan, serta pemikiran dan karakteristiknya.

Pertama, Jama’ah Anshor as-Sunnah al-Muhammadiyah yang didirikan di Kairo 1345 H yang orientasi dakwahnya kepada seruan sosial dan ilmu pengetahuan. 
Kedua, Hizbut Tahrir yang didirikan di Yordania pada 1378 H yang orientasi dakwahnya pada seruan politik (as-siyasi). 
Ketiga, Jama’ah Tabligh yang didirikan di India yang berorientasi pada seruan sufiyyah. 
Keempat, yang tulisan tentangnya dan aktivitasnya ditulis di akhir karena tulisan tentang itu sangat banyak, yakni Ikhwanul Muslimin yang didirikan di Mesir pada 1347 H. Penulis menganggap bahwa jama’ah ini mewakili gerakan da’wah yang memiliki karakteristik syamil (menyeluruh). Tidak hanya memperhatikan aspek sosial dan ilmu pengetahuan semata, melainkan juga aspek sufiyyah dan siyasiyyah bahkan juga meliputi aspek harakiyyah dan jihadiyyah (pergerakan dan jihad).

Pada akhirnya, karakteristik jalan menuju penegakan khilafah Islamiyah amatlah sulit, sebelum mendapatkan pertolongan dari Allah, penuh dengan berbagai macam hal yang tidak disukai oleh nafsu. Setelah mendapat pertolongan Allah dihiasi dengan berbagai macam syahwat. Yang dituntut adalah tetap teguh berpijak kepada kebenaran dalam kedua situasi tersebut, yakni situasi bala’ dan bujukan. Ada banyak jama’ah Islamiyah yang telah menempuh jalan ini. Di antara jama’ah tersebut ada yang tujuan dan sarananya terbatas sehingga tidak mengantarkannya kepada tujuan yang diharapkan. Menurut syari’at Islam ia tertolak. Ada juga jama’ah yang tujuan dan sarananya lengkap, mencerminkan kesempurnaan dan keluhuran Islam dan diterima menurut syari’at Islam. Jama’ah yang memiliki kesempurnaan dan ke-komprehensif-an dalam tujuan dan sarananya-lah yang layak mendapat loyalitas dan dukungan setiap Muslimin.

DAFTAR ISI

Pendahuluan

* Pengertian Jama’atul Muslimin Menurut Bahasa dan Syariat
* Kedudukan Jama’atul Muslimin Menurut Ajaran Islam
* Adakah Jama’atul Muslimin di Dunia Sekarang Ini?
* Kesimpulan

BAB I Struktur Organisasi Jama’atul Muslimin
I. Umat Islam
II. Syura (Musyawarah)
III. Imamah ‘Uzhma
IV. Tujuan Jama’atul Muslimin dan Sarananya

BAB II Jalan Menuju Jama’atul Muslimin
I. Hukum-Hukum Islam
II. Kesadaran Para Rasul dan Pengikut-Pengikutnya Terhadap Langkah Ini
III. Para Da’i Islam dan Langkah Pertama Rasulullah saw

BAB III Rambu-Rambu Sirah Nabi saw dalam Menegakkan Jama’ah
I. Menyebarkan Prinsip-Prinsip Da’wah
II. Pembentukan Da’wah
III. Konfrontasi Bersenjata Terhadap Musuh Da’wah
IV. Sirriyah Dalam Kerja Membina Jama’ah
V. Bersabar Atas Gangguan Musuh
VI. Menghindari Medan Pertempuran

BAB IV Tabiat Jalan Menuju Jama’atul Muslimin
I. Tabiat Jalan Menuju Jama’atul Muslimin
II. Contoh-Contoh Tabiat Jalan
III. Jama’ah-Jama’ah Terpenting Yang Aktif di Medan Da’wah Islam

* Perjuangan Islam Setelah Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah
* Jama’ah Anshor as-Sunnah al-Muhammadiyah
* Hizbut Tahrir
* Jama’ah Tabligh
* Jama’ah Ikhwanul Muslimin