Sunday, 11 October 2015

TOKOH-TOKOH "MADRASAH MALAM"

Tokoh-Tokoh "Madrasah Malam"

Sesungguhnya peran dakwah Islam di masa sekarang, tidak akan meraih keberhasilannya sebelum para da'inya menyalakan pelita mereka di malam hari. Cahaya dakwahnya tidak akan mampu mengusir kegelapan jahiliyah abad duapuluh satu selama pengembannya tidak menjadikan "Ya Qayyum" sebagai wirid mereka.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang penya'ir Iqbal melalui pengalamannya yang ia ringkaskan ke dalam bait-bait sya'irnya berikut :

Aku menagis manakala malam hari menurunkan tirai kegelapannya dan manusia lelap dalam tidurnya, sedang air mataku bercucuran dengan derasnya.
Jiwaku terbakar oleh kesedihan dan kepedihan, dan kalimat yang menghiburku dalam kegelapan malam adalah 'Ya Qayyum'.
Aku bagaikan lilin, aku bermandikan air mata, dikegelapan malam aku nyalakan pelitaku.
Keramaian orang-orang adalah berkat cahayaku yang meneranginya, aku pancarkan cahayaku (buat mereka) sedang diriku sendiri terbakar.

Asy Syahid Imam Hasan Al Banna mengatakan :

"Detik-detik malam hari itu sangat berharga, maka janganlah kamu menyi-nyiakan dengan kelalaian."

Dahulu semasa generasi Islam pertama, apabila tengah malam telah tiba maka terdengarlah suara para juru adzan mengumandangkan :

"Wahai para tokoh malam hari, bersungguh-sungguhlah betapa banyaknya seruan tidak terjawab.

Tiada yang bangun di malam hari melainkan hanya orang yang memiliki tekad yang kuat dan kesungguhan yang meyakinkan."

Sesungguhnya fenomena ini benar-benar mewarnai suaru "madrasah", yang di dalamnya para tokoh dan kadernya mampu menyalakan api semangat, dan menebarkan cahaya mereka ke seluruh kawasan yang telah tertutup oleh kegelapan jahiliyah.

Apakah kita sudah kepayahan untuk kembali menempuh jalan para da'i terdahulu, ataukah kita telah terpedaya oleh ijtihad baru yang membuat kita bersikap acuh, meremehkan masalah dan malas menanggulanginya?

Allah Subhanahu wa Ta'ala mensifati hamba-hamba-Nya yang mulia seraya berfirman,
"Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka." (Al Furqaan : 64)

Sayyid Quthb di dalam tafsir Fi Dzilalil Qur'an, ketika menafsirkan ayat di atas berkata, "Allah Subhanahu wa Ta'ala menunjukkan sifat-sifat hamba-hamba-Nya yang berbeda dan berkedudukan khusus. Seakan-akan mereka adalah inti manusia pada akhir sebuah peperangan yang panjang antara petunjuk dan kesesatan. Firman Allah, "Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka." Menunjukkan bahwa shalat, sujud dan bangun malam merupakan gambaran tentang tindakan yang dilakukan oleh hamba-hamba Allah yang mereka kerjakan di tengah malam ketika manusia tidur. Mereka itu adalah kaum yang melalui malam harinya dengan bersujud dan berdiri menghadap Rabb nya, serta bersujud kepada-Nya semata. Mereka itulah kaum yang meninggalkan tidur nyenyak untuk mendapatkan sesuatu yang lebih menyenangkan dan lebih nikmat, yaitu sibuk dengan menghadapkan diri kepada Rabb mereka, menggantungkan ruh dan anggota badan mereka kepada-Nya, ketika manusia tidur, mereka bangun bersujud, dan ketika manusia jatuh ke bumi mereka naik ke atas singasana Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung."

Hasan al-Bashri berkata, "saya telah berkawan dengan suatu kaum yaitu para shahabat dan pembesar tabi'in, yang menghabiskan waktu malamnya untuk bersujud dan bangun. Mereka bangun dipenghujung malam, air mata berlinang membasahi pipi mereka, sesekali rukuk sesekali sujud, bermunajat kepada Rabb mereka, tidak bosan sepanjang malam, karena hati mereka dipenuhi dengan harapan yang baik pada hari kiamat, sehingga walaupun mereka merasakan kesakitan pada tubuh mereka, mereka tetap bergembira, karena mengharapkan balasan yang lebih baik. Semoga Allah memberikan rahmat kepada orang-orang yang berbuat demikian, yang tidak mau membiarkan dirinya kurang dalam melakukan qiyamul lail. Sesungguhnya dunia akan terputus dari pemiliknya dan hanya amal perbuatannyalah yang akan dikembalikan kepada pemiliknya." Kemudian beliau menangis dan air mata membasahi jenggotnya."
 

Monday, 5 October 2015

KEUTAMAAN DAN PAHALA SHALAT TAHAJUD

Keutamaan dan Pahala Shalat Tahajud dan Qiyamul Lail

Allah SWT berfirman :

"Dan pada sebahagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji". (QS. Al Israa : 79)

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” ( QS. As Sajdah : 16-17)

"Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya)". (QS. Al Muzzamil: 2-3)

"(Apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran". (QS. Az Zumar : 9)

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

"Shaum yang paling utama setelah shaum Ramadhan adalah shaum pada bulan Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam (Tahajud)". (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ

Setan membuat tiga ikatan pada tengkuk seorang diantara kalian jika ia tidur. Setan akan memukul setiap ikatan itu (seraya membisikkan), “Bagimu malam yang panjang, maka tidurlah”. Jika ia bangun seraya menyebut Allah (berdzikir), maka terlepaslah sebuah ikatan. Jika ia berwudhu’, maka sebuah ikatan yang lain terlepas. Jika ia sholat, maka sebuah ikatan akan terlepas lagi. Lantaran itu, ia akan menjadi bersemangat lagi baik jiwanya. Jika tidak demikian, maka ia akan jelek jiwanya lagi malas”. (HR. Bukhari dan Muslim)

يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ
يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ ، مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

Robb kita tabaroka wa ta’ala turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berkata: ‘Siapa yang berdoa pada-Ku, aku akan memperkenankan doanya. Siapa yang meminta pada-Ku, pasti akan Kuberi. Dan siapa yang meminta ampun pada-Ku, pasti akan Ku-ampuni’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

مَا مِنَ امْرِئٍ تَكُونُ لَهُ صَلَاةٌ بِلَيْلٍ فَغَلَبَهُ عَلَيْهَا نَوْمٌ إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَجْرَ صَلَاتِهِ , وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ
"Tidaklah seseorang yang (bertekad kuat) akan mengerjakan shalat malam, lalu tertidur, Allah pasti menulis untuknya pahala shalat malam. Adapun tidurnya tersebut, merupakan sedekah untuknya".  (HR. an Nasaa-i, dishahiihkan syekh al albani)

Dari Abi Umamah al Bahili radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
 
عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ، وقُرْبَةٌ إِلى اللَّهِ تعالى، ومِنْهَاةٌ عَنِ الإثمِ، وتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ

Kerjakanlah shalat malam, sesungguhnya shalat malam adalah kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kalian, sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, menjadi penghalang dari perbuatan dosa, dan menghapuskan kesalahan.” (HR. At-Tirmidzi & al Hakim)

عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

Dari Jabir r.a., ia barkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya pada malam hari itu benar-benar ada saat yang seorang muslim dapat menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya); dan itu setiap malam.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Dari Abu Said Al Khudri dan Abu Hurairah radhiallahu 'anhuma mereka berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ اسْتَيْقَظَ مِنْ اللَّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ جَمِيعًا كُتِبَا مِنْ الذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ

“Barangsiapa yang bangun malam dan membangunkan istrinya kemudian mereka berdua melaksanakan shalat dua rakaat secara bersama, maka mereka berdua akan digolongkan ke dalam lelaki-lelaki dan wanita-wanita yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Abu Daud & Ibnu Majah, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani)

Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رَحِمَ اللهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِيْ وَجْهِهَا الْمَاءَ رَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِيْ وَجْهِهِ الْمَاءَ

“Allah merahmati seorang lelaki yang bangun pada malam hari lalu mengerjakan shalat dan membangunkan istrinya. Kalau istrinya enggan, ia memercikkan air ke wajah (istri)nya. Allah merahmati seorang perempuan yang bangun pada malam hari lalu mengerjakan shalat dan membangunkan suaminya. Kalau suaminya enggan, ia memercikkan air ke wajah (suami)nya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)


NASIHAT ASY SYAHID HASAN AL BANNA

 
Nasihat Asy Syahid Hasan Al Banna

Sesungguhnya medan berbicara itu tidak semudah medan berkhayal. Medan berbuat tidak semudah medan berbicara. Medan jihad tidak semudah medan bertindak. Dan medan jihad yang benar itu tidak semudah medan jihad yang keliru.
Terkadang sebagian besar orang mudah berangan-angan namun tidak semua angan-angan yang ada dalam benaknya mampu diucapkan dengan lisan.
Betapa banyak orang yang dapat berbicara namun sedikit sekali yang sanggup bekerja dengan sungguh-sungguh.
Dan dari yang sedikit itu banyak diantaranya yang sanggup berbuat namun jarang yang mampu menghadapi rintangan-rintangan yang berat dalam berjihad.
Para mujahid adalah sekelompok kecil yang terdiri dari para ‘Anshor’ (orang-orang yang bersedia berkorban demi agama) yang bisa berbuat salah seandainya mereka tidak mendapat pertolongan Allah.
Maka persiapkanlah diri dan jiwa kalian, menggemblengnya secara benar dengan ujian yang cermat. Serta ujilah jiwa kalian dengan tindakan, yaitu dengan suatu pekerjaan yang amat berat baginya. Dan jauhkanlah jiwa kalian dari kesenangan dan kebiasan yang buruk….

Saudaraku, putaran waktu akan memperlihatkan kepada kita peristiwa-peristiwa yang mengejutkan dan memberikan peluang kepada kita untuk berbuat. Dunia akan melihat bahwa da`wah kita adalah hidayah, kemenangan, dan kedamaian yang dapat menyembuhkan rasa sakit yang sedang dideritanya. Dan setelah itu tibalah giliran kita untuk memimpin dunia, karena bumi tetap akan berputar dan kejayaan itu akan kembali kepada kita. Dan hanya Allah-lah harapan kita satu-satunya.
Maka bersiap dan berbuatlah, jangan menunggu datangnya hari esok, kita memang harus menunggu putaran waktu itu, tetapi kita tidak boleh berhenti, kita harus berbuat dan terus melangkah, karena kita tidak mengenal kata berhenti dalam jihad yang suci ini.
Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, sungguh benar-benar akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami.”
(Al Hujurah : 69) 
Dan hanya Allah-lah zat yang Maha Agung dan bagi-Nya segala puji.

= ASY SYAHID HASAN AL BANNA =

Sunday, 4 October 2015

KEUTAMAAN DAN PAHALA BERWUDHU

Keutamaan dan Pahala Berwudhu

Allah SWT berfirman :

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri". (Al Baqarah : 222)

Allah SWT berfirman :

يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى ٱلْمَرَافِقِ وَٱمْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى ٱلْكَعْبَيْنِ  وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَٱطَّهَّرُوا  وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَائِطِ أَوْ لَٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَٱمْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ  مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit[403] atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh[404] perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur." (Al Maidah : 6)

Dari Hammam bin Munabbih bahwa dia mendengar Abu Hurairah radhiyallahu'anhu berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

لَا تُقْبَلُ صَلَاةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ. قَالَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ: مَا الْحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ؟ قَالَ: فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ

Tidak akan diterima shalat seseorang yang berhadats hingga dia berwudhu.” Seorang laki-laki dari Hadhramaut bertanya, “Apa yang dimaksud dengan hadats wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah menjawab, “Kentut baik dengan suara atau tidak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ

Setan membuat tiga ikatan pada tengkuk seorang diantara kalian jika ia tidur. Setan akan memukul setiap ikatan itu (seraya membisikkan), “Bagimu malam yang panjang, maka tidurlah”. Jika ia bangun seraya menyebut Allah (berdzikir), maka terlepaslah sebuah ikatan. Jika ia berwudhu’, maka sebuah ikatan yang lain terlepas. Jika ia sholat, maka sebuah ikatan akan terlepas lagi. Lantaran itu, ia akan menjadi bersemangat lagi baik jiwanya. Jika tidak demikian, maka ia akan jelek jiwanya lagi malas”. (HR. Al-Bukhoriy [1142 & 3269] dan Muslim [1816])

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَآَنِ أَوْ تَمْلَأُ مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالصَّلَاةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَايِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا

Bersuci (wudhu’) adalah separuh iman. Alhamdulillah akan memenuhi mizan (timbangan). Subhanallah wal hamdulillah akan memenuhi antara langit dan bumi. Sholat adalah cahaya. Shodaqoh adalah tanda. Kesabaran adalah sinar. Al-Qur’an adalah hujjah (pembela) bagimu atau hujatan atasmu. Setiap orang keluar di waktu pagi; maka ada yang menjual dirinya, lalu membebaskannya atau membinasakannya”. (HR. Muslim dalam Ath-Thoharoh, bab: Fadhl Ath-Thoharoh [533])

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu– berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَى الْمَقْبُرَةَ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ وَدِدْتُ أَنَّا قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا قَالُوا أَوَلَسْنَا إِخْوَانَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَنْتُمْ أَصْحَابِي وَإِخْوَانُنَا الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ فَقَالُوا كَيْفَ تَعْرِفُ مَنْ لَمْ يَأْتِ بَعْدُ مِنْ أُمَّتِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلًا لَهُ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ بَيْنَ ظَهْرَيْ خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ أَلَا يَعْرِفُ خَيْلَهُ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ الْوُضُوءِ وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ أُنَادِيهِمْ أَلَا هَلُمَّ فَيُقَالُ إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا

“Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah mendatangi pekuburan seraya bersabda, “Semoga keselamatan bagi kalian wahai rumah kaum mukminin. Aku sangat ingin melihat saudara-saudara kami”. Mereka (para sahabat) berkata, “Bukankah kami adalah saudara-saudaramu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Kalian adalah para sahabatku. Sedang saudara kami adalah orang-orang yang belum datang berikutnya”. Mereka berkata, “Bagaimana anda mengenal orang-orang yang belum datang berikutnya dari kalangan umatmu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Bagaimana pandanganmu jika seseorang memiliki seekor kuda yang putih wajah, dan kakinya diantara kuda yang hitam pekat. Bukankah ia bisa mengenal kudanya”. Mereka berkata, “Betul, wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya mereka (umat beliau) akan datang dalam keadaan putih wajah dan kakinya karena wudhu’. Sedang aku akan mendahului mereka menuju telaga. Ingatlah, sungguh akan terusir beberapa orang dari telagaku sebagaimana onta tersesat terusir. Aku memanggil mereka, “Ingat, kemarilah!!” Lalu dikatakan (kepadaku), “Sesungguhnya mereka melakukan perubahan setelahmu”. Lalu aku katakan, “Semoga Allah menjauhkan mereka”. [HR. Muslim dalam Ath-Thoharoh, bab: Istihbab Itholah Al-Ghurroh (583)] 

إِنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوءِ

Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat nanti dalam keadaan dahi, kedua tangan dan kaki mereka bercahaya, karena bekas wudhu’.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin Umar radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَاتَ طَاهِرًا، بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلَانٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا

Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.’” (HR. Ibn Hibban)

Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan beberapa manfaat berwudhu sebelum tidur,

وَلَهُ فَوَائِد : مِنْهَا أَنْ يَبِيت عَلَى طَهَارَة لِئَلَّا يَبْغَتهُ الْمَوْت فَيَكُون عَلَى هَيْئَة كَامِلَة , وَيُؤْخَذ مِنْهُ النَّدْب إِلَى الِاسْتِعْدَاد لِلْمَوْتِ بِطَهَارَةِ الْقَلْب لِأَنَّهُ أَوْلَى مِنْ طَهَارَة الْبَدَن .. ، وَيَتَأَكَّد ذَلِكَ فِي حَقّ الْمُحْدِث وَلَا سِيَّمَا الْجُنُب وَهُوَ أَنْشَط لِلْعَوْدِ , وَقَدْ يَكُون مُنَشِّطًا لِلْغُسْلِ ، فَيَبِيت عَلَى طَهَارَة كَامِلَة . وَمِنْهَا أَنْ يَكُون أَصْدَق لِرُؤْيَاهُ وَأَبْعَد مِنْ تَلَعُّب الشَّيْطَان بِهِ

Ada banyak manfaat dari berwudhu sebelum tidur, diantaranya, orang itu tidur dalam kondisi suci, agar ketika kematian menjemputnya, dia berada dalam keadaan sempurna. Dari hadis ini juga terdapat pelajaran agar kita selalu menyiapkan diri menghadapi kematian, dengan menyucikan hati. Karena kesucian hati lebih diutamakan dari pada kesucian badan…, lebih ditekankan lagi untuk orang yang sedang berhadas, terutama orang junub, agar bisa kembali segar atau memicu untuk mandi. Sehingga dia bisa tidur suci dari semua hadats. Kemudian, diantara manfaat wudhu ini, untuk mengundang mimpi yang baik, dan dijauhkan dari permainan setan ketika tidur. (Fathul Bari, 11/110)

Dari Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu, dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ جَسَدِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِهِ

“Barangsiapa yang berwudhu lalu membaguskan wudhunya, niscaya kesalahan-kesalahannya keluar dari badannya hingga keluar dari bawah kuku-kukunya.” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ – أَوِ الْمُؤْمِنُ – فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ – أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ – فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ – أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ – فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلاَهُ مَعَ الْمَاءِ – أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ – حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنَ الذُّنُوبِ

Apabila seorang hamba muslim atau mukmin berwudhu, kemudian dia membasuh wajahnya maka akan keluar dari wajahnya bersama air itu -atau bersama tetesan air yang terakhir- segala kesalahan yang dia lakukan dengan pandangan kedua matanya. Apabila dia membasuh kedua tangannya maka akan keluar dari kedua tangannya bersama air itu -atau bersama tetesan air yang terakhir- segala kesalahan yang dia lakukan dengan kedua tangannya. Apabila dia membasuh kedua kakinya maka akan keluar bersama air -atau bersama tetesan air yang terakhir- segala kesalahan yang dia lakukan dengan kedua kakinya, sampai akhirnya dia akan keluar dalam keadaan bersih dari dosa-dosa.(HR. Muslim dalam Kitab at-Thaharah)

Dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu’alaihi wa salam, beliau bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلغُ – أَوْ فَيُسْبِغُ – الوُضُوءَ ، ثُمَّ يقول : أشهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ؛ إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ  رواه مسلم . وزاد الترمذي :  اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ ، وَاجْعَلْنِي مِنَ المُتَطَهِّرِينَ

Barang siapa di antara kalian berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian berkata, aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah Melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan rasul (utusan)-nya, maka akan dibukakan untuknya pintu surga yang delapan dan dia bisa masuk ke dalamnya lewat pintu mana saja yang dikehendakinya. (HR. Muslim).

(Dalam Riwayat Tirmidzi ditambahkan: "Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mensucikan diri.”) 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,
“Maukah kutunjukkan kepada kalian tentang sesuatu (amalan) yang dengannya Allah menghapuskan dosa-dosa, dan mengangkat derajat-derajat?” Mereka berkata, “Mau, wahai Rasulullah!!” Beliau bersabda, “(Amalan itu) adalah menyempurnakan wudhu’ di waktu yang tak menyenangkan, banyaknya langkah menuju masjid, dan menunggu sholat setelah menunaikan sholat. Itulah ar-Ribaath (bagaikan berjaga di perbatasan dalam perang di jalan Allah)”. (HR. Muslim )

Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud isbaghul wudhu’ adalah menyempurnakannya. Adapun yang dimaksud kondisi yang tidak menyenangkan adalah dingin yang sangat menusuk, luka yang ada di badan, dan lain sebagainya.” (Syarah Muslim [3/41])

Dari Abu Buraidah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam di pagi hari memanggil Bilal lalu berkata,

يَا بِلاَلُ بِمَ سَبَقْتَنِى إِلَى الْجَنَّةِ مَا دَخَلْتُ الْجَنَّةَ قَطُّ إِلاَّ سَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِى دَخَلْتُ الْبَارِحَةَ الْجَنَّةَ فَسَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِى

“Wahai Bilal, kenapa engkau mendahuluiku masuk surga? Aku tidaklah masuk surga sama sekali melainkan aku mendengar suara sendalmu di hadapanku. Aku memasuki surga di malam hari dan aku dengar suara sendalmu di hadapanku.”

Bilal menjawab,

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَذَّنْتُ قَطُّ إِلاَّ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَمَا أَصَابَنِى حَدَثٌ قَطُّ إِلاَّ تَوَضَّأْتُ عِنْدَهَا وَرَأَيْتُ أَنَّ لِلَّهِ عَلَىَّ رَكْعَتَيْنِ


“Wahai Rasulullah, aku biasa tidak meninggalkan shalat dua raka’at sedikit pun. Setiap kali aku berhadats, aku lantas berwudhu dan aku membebani diriku dengan shalat dua raka’at setelah itu.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Tuesday, 29 September 2015

INTERAKSI KITA BERSAMA AL QUR-AN

Bagaimana Kita Berinteraksi dengan Al Qur-an ?


1.       Beriman bahwa Al Qur-an adalah firman Allah SWT bukan makhluk Allah atau kalam lain.
(9:6/ 41:41-42)

  • Kita tidak menyerupakannya dengan sesuatu apapun dari perkataan makhluk-makhluk Allah. (69:41-43)
  • Membenarkan seluruh yang ada dalam Al Qur-an baik ayat yang muhkamat (sudah jelas maknanya dan pasti kandungan hukumnya, seperti : kewajiban shalat, shaum, dll) maupun mutasyabihat (ayat-ayat yang tidak bisa dipastikan maknanya atau artinya lebih dari satu/ banyak,  memungkinan untuk ikhtilaf).
3:7 = manusia yang hatinya kotor hanya membicarakan yag mutusyabihat.
Hikmahnya = untuk menguji iman.
  • Mengagungkan/ menghormati secara zhahir/kertas/mushhaf dan maknanya (56:77-80)

2.       Membacanya Dengan Sebenar-benar Bacaan. (2:121/ 27:91-92)

  • Menegakkan huruf-huruf Al Qur-an dalam membacanya/ membaguskannya, termasuk waqof. (73:4)
-          Berkata Rasulullah SAW “
Bacalah Al Qur-an dengan cara dan gaya orang arab dan suara mereka”.

  • Khusyu’ ketika tilawah (57:16/ 39:23/ 17:109/ 19:58)
-          Rasulullah SAW berkata :
Bacalah Al Qur-an dan menangislah, kalau kamu tidak bisa maka usahakan untuk menangis.”
-          Suatu saat Umar shalat subuh jadi imam kemudian membaca surah Yusuf. Kemudian ia menangis sampai air matanya ke tulang selangka, bahwa sesungguhnya tangisnya terdengar sampai shaff terakhir.
-          Dari Abi Raja’ berkata :
Aku melihat Ibnu Abbas dan di bawah kedua matanya ada bekas tanda hitam (seperti tali sandal) bekas ia menangis.”
-          Dari Abi Sholih berkata :
Serombongan manusia dari Yaman datang kepada Abu Bakar kemudian membaca Al Qur-an dan menangis. Demikianlah kamu dulu seperti itu.”
-          Berkata Imam Abu Hamid Al Ghazali :
Menangis sangat disukai ketika membaca Al Qur-an, atau ketika Al Qur-an dibacakan oleh orang lain. Caranya ialah dengan menghadirkan dalam hati kita rasa sedih. Pikirkanlah kandungan Al Qur-an yang berupa ancaman, janji (siksaan) yang pedih, berbagai macam perjanjian (Allah dengan hamba-hamba-Nya), lalu renungkanlah ringkasannya dari semua itu. Jika tetap tidak dapat menangis, seperti yang biasa dialami oleh orang-orang khawash (khusus), maka kondisi itulah yang harus dia tangisi, karena mendapat musibah yang amat besar buat kamu.”

3.       Tadabbur. (47:24/ 38:29)

  • Pengertian :
”Memahami ilmu Al Qur-an (tajwid, asbabun nuzul, makkah madaniyyah) dan tamsil.” (3:79/ 66:10-12)
-          Berkata Ibnu Mas’ud ra.:
Demi Allah, yang tidak ada Ilah selain-Nya, tidaklah turun dari satu surat pun kecuali aku mengetahuinya dan tidak turun satu ayat pun dari Al Qur-an kecuali aku mengetahuinya. Kalau saya tahu ada orang yang lebih mengetahui dari saya, saya bisa ke rumah dia dengan unta.”
·         Tunduk terhadap perintah dan larangan Al Qur-an. (24:51/ 32:36).
·         Selalu mentafakkurkan tentang keajaiban Al Qur-an (fil kauni).
·         Membahas/ mencari tahu mana ayat-ayat yang bersifat umum dan khusus, dan mencari mana ayat-ayat nasikh dan mansukh.

#  Sangat disukai mengulang-ulang satu ayat dalam rangka tadabbur.
-          Abu Dzar : ”Rasul shalat lalu membaca satu ayat (5:118) diulang-ulang sampai subuh.”
-          ’Ibad bin Hamzah : ”Aku masuk ke rumahny Asma’, ia sedang membaca ayat 52:27 maka Asma’ berhenti di situ dan mengulang-ulangnya dan berdo’a lama sekali, karena saya mempunyai keperluan, saya pergi ke pasar. Kemudian saya kembali, ia masih membacanya.
-          Said ibnu Jubair mengulang-ulang ayat 2:281, 82:6.

#  Berkata Ibrahim Al Khawash :
Obat hati ada lima :
1.       Baca Al Qur-an dengan tadabbur;
2.       Perut kosong/ banyak shaum;
3.       Qiyamullail;
4.       Istighfar di waktu sahur;
5.       Bergaul dengan orang-orang shaleh.


4.       Mengamalkan Baik Dustur (UU) Maupun Minhaj.

Berkata Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah:
Barangsiapa yang tidak membaca Al Qur-an, berarti dia telah meninggalkan Al Qur-an, barangsiapa yang membaca tapi tidak mentadabburkan berarti ia telah meninggalkan Al Qur-an. Barang siapa telah membaca, mentadabburi tetapi tidak mengamalkan, berarti ia telah meninggalkan Al Qur-an.”
Beliau berdalil dengan ayat 30:25.

5.       Menda’wahkan/ Memperjuangkan.

·         Menyebarkan ilmu-ilmu Al Qur-an (memasyarakatkan);

Berkata Rasulullah SAW:
Sebaik-baik orang diantara kamu adalah orang yang mempelajari Al Qur-an dan mengamal-kannya.”

·         Membelanya dari orang-orang yang ingin menyelewengkan makna Al Qur-an.
(25:5-6/ 10:37-40)

Bermesraan Dengan Ibu Mertua

Bermesraan dengan ibu mertua? Tinggal dalam satu rumah? Kok bisa?

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa hubungan menantu wanita dengan ibu mertuanya seringkali tidak mesra. Terlebih bagi mereka yang tinggal dalam satu atap. Sebagaimana sebuah bahtera (perahu) yang memiliki dua orang nahkoda. Mertua menganggap menantunya tak becus mengurus rumah tangga; sementara menantu, merasa mertuanya terlalu ikut campur urusan keluarganya.

Masalah seperti ini seharusnya tidak perlu terjadi bila keduanya dapat berkomunikasi dengan baik, dan pandai menempatkan diri dengan bijak. Di mata menantu, mertua adalah orang tua suami tercinta yang juga wajib dihormati layaknya orang tua sendiri, sementara bagi mertua, menantu adalah kekasih hati sang anak yang wajib disayangi layaknya anak sendiri.

Beberapa Tips agar bisa bermesraan dengan ibu mertua

  1. Buanglah jauh-jauh prasangka negatif terhadap ibu mertua. Posisikan ibu mertua layaknya ibu sendiri. Jika suatu ketika ibu mertua melakukan kesalahan, sikapilah seperti kita bersikap kepada ibu sendiri.
  2. Bila Anda kesal atau memiliki masalah dengan ibu mertua, cobalah melihat dari sudut pandang suami. Suami sebenarnya berada di dua pilihan. Jika dia membela Anda, ibunya tentu akan menganggapnya sebagai anak yang tidak menuruti orangtua. Tapi kalau dia membela ibunya, Anda akan kesal dan mengira suami sudah tidak cinta lagi. Untuk itulah Anda harus berusaha menempatkan diri pada posisi suami. Sebelum Anda minta suami melakukan sesuatu atas sikap ibunya, pikirkan dulu apa yang Anda akan buat jika menghadapi situasi tersebut. Bagaimana jika ternyata sikap menjengkelkan itu dilakukan ibu Anda? Sekali lagi, pikirkan dulu baik-baik sebelum berbuat suatu hal yang bisa memperburuk hubungan.
  3. Berusaha untuk tidak menceritakan setiap hal yang terjadi antara Anda dengan ibu mertua kepada suami.
  4. Biasakan bangun pagi sebelum mertua Anda bangun. Lakukan pekerjaan rumah yang bisa Anda lakukan. Dengan demikian mertua Anda akan menganggap Anda adalah menantu yang rajin bangun pagi dan rajin membantu pekerjaan rumah. Hal ini yang memberikan nilai lebih untuk diri Anda sendiri dan pastinya disayang mertua.
  5. Bantulah suami Anda untuk menjadi orang yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Nasehatilah ia agar senantiasa melakukan hal tersebut. Sesungguhnya, bakti Anda pada ibu mertua adalah keberkahan bagi Anda. Jika ibu mertua Anda mendapati anak laki-lakinya (suami) yang membuat Anda marah, ia akan mencegah dan membantu membuat Anda kembali damai dan rukun.
  6. Jangan mengomentari suami ketika ia mempersembahkan hadiah untuk ibunya. Sebaliknya, bantulah ia agar semakin sering memberikan hadiah. Atau kalau bisa, cobalah untuk memberikan hadiah khusus untuk ibu mertua. Sesekali ajaklah makan bersama di luar rumah atau membelikan oleh-oleh ketika bepergian ke luar kota. Walaupun tidak mahal, tetapi paling tidak memperlihatkan bahwa Anda perhatian terhadap beliau.
  7. Adapun jika ibu mertua benar-benar memiliki sifat yang bakhil (pelit), hendaknya istri tidak terlalu sering memberitahu ibu mertua tentang sebagian besar interaksi keuangannya. Hendaknya ia tidak terlalu sering membicarakan jumlah uang yang dibelanjakan, baik untuk pakaian maupun yang lain.
  8. Ajarilah anak-anak agar mereka mau mencintai, menyayangi, mentaati, dan menghormati neneknya. Ajaklah mereka untuk selalu mengunjunginya dan jangan jauhkan neneknya dari mereka. Ajarkan kepada mereka tata cara dan adab berkunjung kepada neneknya.
  9. Terakhir, hendaklah para istri memahami bahwa suatu saat mereka juga akan menjadi ibu mertua. Oleh karena itu, hendaklah mereka selalu berinteraksi dengan baik terhadap ibu mertuanya.

Wednesday, 23 September 2015

NAMA-NAMA SURGA DAN CALON PENGHUNINYA

SURGA


Nama-Nama Surga dan Calon Penghuninya


1. Surga Firdaus

Surga Firdaus diciptakan Allah SWT dari emas.

Calon Penghuninya adalah :

- Orang-orang yang khusyuk dan memelihara shalatnya;
- Orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna;
- Orang-orang yang menunaikan zakat;
- Orang-orang yang memelihara kemaluannya (kecuali terhadap istri-istrinya);
- Orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.

Allah SWT berfirman :
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (1), (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya (2), dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna (3),dan orang-orang yang menunaikan zakat (4),dan orang-orang yang menjaga kemaluannya(5),kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela (6). Barangsiapa mencari yang di balik itu Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas (7). dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya (8).dan orang-orang yang memelihara shalatnya (9).mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi (10), (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. mereka kekal di dalamnya (11)." (QS. Al Mukminun : 1-11)


2. Surga 'Adn

Surga 'Adn diciptakan Allah SWT dari intan putih.

Calon penghuninya adalah :

- Orang yang mengerjakan kebaikan karena Allah SWT.

Allah SWT berfirman :

"Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: "Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?" mereka menjawab: "(Allah telah menurunkan) kebaikan". orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. dan Sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan Itulah Sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa (30), (yaitu) syurga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi Balasan kepada orang-orang yang bertakwa (31)" (QS. An Nahl : 30-31)

- Orang yang benar-benar beriman dan beramal sholeh.

Allah SWT berfirman :

"Dan Barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam Keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, Maka mereka Itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang Tinggi (mulia) (75), (yaitu) syurga 'Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. dan itu adalah Balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan) (76)". (QS. Thohaa : 75-76)

- Orang yang banyak berbuat kebaikan.

Allah SWT berfirman :

"Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang Menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang Amat besar (32). (bagi mereka) syurga 'Adn mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka didalamnya adalah sutera (33)." (QS. Faathir : 32-33)

- Orang yang bersabar karena berharap ridho Allah, menginfaqkan hartanya, dan membalas kejahatan dengan kebaikan.

Allah SWT berfirman :
"Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang Itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik) (22), (yaitu) syurga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (23);" (QS. Ar Ra'du : 22-23)


3. Surga Na'im

Surga Na'im diciptakan Allah SWT dari perak putih.

Calon penghuninya adalah :

- Orang-orang yang beriman dan beramalah sholeh;

Allah SWT berfirman :

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka syurga-syurga yang penuh kenikmatan" (QS. Luqman : 8)

"Kekuasaan di hari itu ada pada Allah, Dia memberi keputusan di antara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan beramal saleh adalah di dalam syurga yang penuh kenikmatan." (QS. Al Hajj : 56)

- Orang-orang yang bertaqwa.

Allah SWT berfirman :

"Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) syurga-syurga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya." (QS. Al Qalam : 34)

4. Surga Ma'wa

Surga Ma'wa diciptakan Allah dari Zamrut hijau.

Calon penghuninya adalah :

- Orang-orang yang bertaqwa kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman :

"Di dekatnya ada syurga tempat tinggal" (QS. An Najm : 15)

- Orang-orang yang benar-benar beriman dan beramal sholeh.

Allah SWT berfirman :

"Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, Maka bagi mereka jannah tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan." (QS. As Sajdah : 19)

- Orang-orang yang takut kebesaran Allah SWT dan menahan diri dari hawa nafsu.

Allah SWT berfirman :

"Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya (40), Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya) (41)". (QS. An Nazi'at : 40-41)

5. Surga Darussalam

Surga Darussalam diciptakan Allah dari yakut merah.

Calon penghuninya adalah :

- Orang-orang yang kuat iman dan islamnya

Allah SWT berfirman :


- Orang-orang yang memperhatikan ayat-ayat Al Qur-an dan mengamalkannya karena Allah SWT.

Allah SWT berfirman :



6. Surga Darul Muqomah

Surga Darul Muqomah diciptakan Allah dari permata putih.

Calon penghuninya adalah :

- Orang-orang yang kebaikannya amat banyak dan sangat jarang berbuat keburukan.

Allah SWT berfirman :



7. Surga Al Maqoomul Amiin

Surga Al Maqoomul Amiin diciptakan Allah SWT dari emas.

Calon penghuninya adalah :

- Orang-orang yang keimanannya telah mencapai tingkat muttaqien, yaitu orang-orang yang benar-benar bertaqwa kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman :



8. Surga Khuldi

Surga Khuldi, surga ini diciptakan Allah SWT dari Marjan merah dan kuning.

Calon Penghuninya adalah :

- Orang-orang yang taat menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.

Allah SWT berfirman :

"Katakanlah: "Apa (azab) yang demikian itukah yang baik, atau surga yang kekal yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa?" Dia menjadi Balasan dan tempat kembali bagi mereka?"." (QS. Al Furqan : 15)