Sunday, 11 October 2015

TOKOH-TOKOH "MADRASAH MALAM"

Tokoh-Tokoh "Madrasah Malam"

Sesungguhnya peran dakwah Islam di masa sekarang, tidak akan meraih keberhasilannya sebelum para da'inya menyalakan pelita mereka di malam hari. Cahaya dakwahnya tidak akan mampu mengusir kegelapan jahiliyah abad duapuluh satu selama pengembannya tidak menjadikan "Ya Qayyum" sebagai wirid mereka.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang penya'ir Iqbal melalui pengalamannya yang ia ringkaskan ke dalam bait-bait sya'irnya berikut :

Aku menagis manakala malam hari menurunkan tirai kegelapannya dan manusia lelap dalam tidurnya, sedang air mataku bercucuran dengan derasnya.
Jiwaku terbakar oleh kesedihan dan kepedihan, dan kalimat yang menghiburku dalam kegelapan malam adalah 'Ya Qayyum'.
Aku bagaikan lilin, aku bermandikan air mata, dikegelapan malam aku nyalakan pelitaku.
Keramaian orang-orang adalah berkat cahayaku yang meneranginya, aku pancarkan cahayaku (buat mereka) sedang diriku sendiri terbakar.

Asy Syahid Imam Hasan Al Banna mengatakan :

"Detik-detik malam hari itu sangat berharga, maka janganlah kamu menyi-nyiakan dengan kelalaian."

Dahulu semasa generasi Islam pertama, apabila tengah malam telah tiba maka terdengarlah suara para juru adzan mengumandangkan :

"Wahai para tokoh malam hari, bersungguh-sungguhlah betapa banyaknya seruan tidak terjawab.

Tiada yang bangun di malam hari melainkan hanya orang yang memiliki tekad yang kuat dan kesungguhan yang meyakinkan."

Sesungguhnya fenomena ini benar-benar mewarnai suaru "madrasah", yang di dalamnya para tokoh dan kadernya mampu menyalakan api semangat, dan menebarkan cahaya mereka ke seluruh kawasan yang telah tertutup oleh kegelapan jahiliyah.

Apakah kita sudah kepayahan untuk kembali menempuh jalan para da'i terdahulu, ataukah kita telah terpedaya oleh ijtihad baru yang membuat kita bersikap acuh, meremehkan masalah dan malas menanggulanginya?

Allah Subhanahu wa Ta'ala mensifati hamba-hamba-Nya yang mulia seraya berfirman,
"Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka." (Al Furqaan : 64)

Sayyid Quthb di dalam tafsir Fi Dzilalil Qur'an, ketika menafsirkan ayat di atas berkata, "Allah Subhanahu wa Ta'ala menunjukkan sifat-sifat hamba-hamba-Nya yang berbeda dan berkedudukan khusus. Seakan-akan mereka adalah inti manusia pada akhir sebuah peperangan yang panjang antara petunjuk dan kesesatan. Firman Allah, "Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka." Menunjukkan bahwa shalat, sujud dan bangun malam merupakan gambaran tentang tindakan yang dilakukan oleh hamba-hamba Allah yang mereka kerjakan di tengah malam ketika manusia tidur. Mereka itu adalah kaum yang melalui malam harinya dengan bersujud dan berdiri menghadap Rabb nya, serta bersujud kepada-Nya semata. Mereka itulah kaum yang meninggalkan tidur nyenyak untuk mendapatkan sesuatu yang lebih menyenangkan dan lebih nikmat, yaitu sibuk dengan menghadapkan diri kepada Rabb mereka, menggantungkan ruh dan anggota badan mereka kepada-Nya, ketika manusia tidur, mereka bangun bersujud, dan ketika manusia jatuh ke bumi mereka naik ke atas singasana Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung."

Hasan al-Bashri berkata, "saya telah berkawan dengan suatu kaum yaitu para shahabat dan pembesar tabi'in, yang menghabiskan waktu malamnya untuk bersujud dan bangun. Mereka bangun dipenghujung malam, air mata berlinang membasahi pipi mereka, sesekali rukuk sesekali sujud, bermunajat kepada Rabb mereka, tidak bosan sepanjang malam, karena hati mereka dipenuhi dengan harapan yang baik pada hari kiamat, sehingga walaupun mereka merasakan kesakitan pada tubuh mereka, mereka tetap bergembira, karena mengharapkan balasan yang lebih baik. Semoga Allah memberikan rahmat kepada orang-orang yang berbuat demikian, yang tidak mau membiarkan dirinya kurang dalam melakukan qiyamul lail. Sesungguhnya dunia akan terputus dari pemiliknya dan hanya amal perbuatannyalah yang akan dikembalikan kepada pemiliknya." Kemudian beliau menangis dan air mata membasahi jenggotnya."
 

No comments: