1.
Beriman bahwa Al Qur-an
adalah firman Allah SWT bukan “makhluk” Allah atau kalam lain.
(9:6/ 41:41-42)
- Kita tidak menyerupakannya dengan sesuatu apapun dari perkataan makhluk-makhluk Allah. (69:41-43)
- Membenarkan seluruh yang ada dalam Al Qur-an baik ayat yang muhkamat (sudah jelas maknanya dan pasti kandungan hukumnya, seperti : kewajiban shalat, shaum, dll) maupun mutasyabihat (ayat-ayat yang tidak bisa dipastikan maknanya atau artinya lebih dari satu/ banyak, memungkinan untuk ikhtilaf).
3:7 = manusia
yang hatinya kotor hanya membicarakan yag mutusyabihat.
Hikmahnya = untuk menguji iman.
- Mengagungkan/ menghormati secara zhahir/kertas/mushhaf dan maknanya (56:77-80)
2.
Membacanya Dengan Sebenar-benar Bacaan. (2:121/ 27:91-92)
- Menegakkan huruf-huruf Al Qur-an dalam membacanya/ membaguskannya, termasuk waqof. (73:4)
-
Berkata Rasulullah SAW “
“Bacalah Al
Qur-an dengan cara dan gaya
orang
arab dan suara mereka”.
- Khusyu’ ketika tilawah (57:16/ 39:23/ 17:109/ 19:58)
-
Rasulullah SAW berkata :
“Bacalah Al Qur-an dan menangislah, kalau kamu tidak bisa maka usahakan
untuk menangis.”
-
Suatu
saat Umar shalat subuh jadi imam kemudian membaca surah Yusuf. Kemudian ia
menangis sampai air matanya ke tulang selangka, bahwa sesungguhnya tangisnya
terdengar sampai shaff terakhir.
-
Dari
Abi Raja’ berkata :
”Aku melihat Ibnu Abbas dan di bawah kedua matanya
ada bekas tanda hitam (seperti tali sandal) bekas ia menangis.”
-
Dari
Abi Sholih berkata :
”Serombongan manusia dari Yaman datang kepada Abu
Bakar kemudian membaca Al Qur-an dan menangis. Demikianlah kamu dulu seperti
itu.”
-
Berkata
Imam Abu Hamid Al Ghazali :
”Menangis sangat disukai ketika membaca Al
Qur-an, atau ketika Al Qur-an dibacakan oleh orang
lain. Caranya ialah dengan menghadirkan dalam hati kita rasa sedih. Pikirkanlah
kandungan Al Qur-an yang berupa ancaman, janji (siksaan) yang pedih, berbagai
macam perjanjian (Allah dengan hamba-hamba-Nya), lalu renungkanlah ringkasannya
dari semua itu. Jika tetap tidak dapat menangis, seperti yang biasa dialami
oleh orang-orang khawash (khusus), maka kondisi itulah yang harus dia tangisi,
karena mendapat musibah yang amat besar buat kamu.”
3.
Tadabbur. (47:24/
38:29)
- Pengertian :
”Memahami ilmu Al Qur-an (tajwid, asbabun nuzul,
makkah madaniyyah) dan tamsil.” (3:79/ 66:10-12)
-
Berkata
Ibnu Mas’ud ra.:
”Demi Allah, yang tidak ada Ilah selain-Nya,
tidaklah turun dari satu surat pun kecuali aku mengetahuinya dan tidak turun
satu ayat pun dari Al Qur-an kecuali aku mengetahuinya. Kalau saya tahu ada orang
yang lebih mengetahui dari saya, saya bisa ke rumah dia dengan unta.”
·
Tunduk
terhadap perintah dan larangan Al Qur-an. (24:51/ 32:36).
·
Selalu
mentafakkurkan tentang keajaiban Al Qur-an (fil kauni).
·
Membahas/
mencari tahu mana ayat-ayat yang bersifat umum dan khusus, dan mencari mana
ayat-ayat nasikh dan mansukh.
#
Sangat
disukai mengulang-ulang satu ayat dalam rangka tadabbur.
-
Abu
Dzar : ”Rasul shalat lalu membaca satu ayat (5:118) diulang-ulang sampai
subuh.”
-
’Ibad
bin Hamzah : ”Aku masuk ke rumahny Asma’, ia sedang membaca ayat 52:27 maka Asma’ berhenti di situ dan mengulang-ulangnya dan berdo’a lama sekali,
karena saya mempunyai keperluan, saya pergi ke pasar. Kemudian saya kembali, ia masih membacanya.
-
Said
ibnu Jubair mengulang-ulang ayat 2:281, 82:6.
#
Berkata
Ibrahim Al Khawash :
Obat hati ada lima :
1.
Baca
Al Qur-an dengan tadabbur;
2.
Perut
kosong/ banyak shaum;
3.
Qiyamullail;
4.
Istighfar
di waktu sahur;
5.
Bergaul
dengan orang-orang shaleh.
4.
Mengamalkan Baik Dustur (UU) Maupun Minhaj.
Berkata Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah:
”Barangsiapa yang tidak membaca Al Qur-an,
berarti dia telah meninggalkan Al Qur-an, barangsiapa yang membaca tapi tidak
mentadabburkan berarti ia telah meninggalkan Al Qur-an. Barang siapa telah
membaca, mentadabburi tetapi tidak mengamalkan, berarti ia telah meninggalkan
Al Qur-an.”
Beliau berdalil dengan ayat 30:25.
5.
Menda’wahkan/ Memperjuangkan.
·
Menyebarkan
ilmu-ilmu Al Qur-an (memasyarakatkan);
Berkata Rasulullah SAW:
”Sebaik-baik orang diantara kamu adalah orang yang mempelajari Al Qur-an
dan mengamal-kannya.”
·
Membelanya
dari orang-orang yang ingin menyelewengkan makna Al Qur-an.
(25:5-6/ 10:37-40)

No comments:
Post a Comment