Wednesday, 16 September 2015

Keutamaan Puasa Arafah

Keutamaan & Keistimewaan Hari 'Arafah

Hari 'Arafah merupakan salah satu hari yang istimewa, karena pada hari itu Allah SWT membanggakan para hamba-Nya yang sedang berkumpul di 'Arafah di hadapan para Malaikat-Nya.

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ

“Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arofah. Dia akan mendekati mereka kemudian akan menampakkan keutamaan mereka (para hamba-Nya yang sedang berkumpul di Arafah) kepada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR. Muslim)

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hari Arofah adalah hari pembebasan dari api neraka. Pada hari itu, Allah akan membebaskan siapa saja yang sedang wukuf di Arofah dan penduduk negeri kaum muslimin yang tidak melaksanakan wukuf. Oleh karena itu, hari setelah hari Arofah –yaitu hari Idul Adha- adalah hari ‘ied bagi kaum muslimin di seluruh dunia. Baik yang melaksanakan haji dan yang tidak melaksanakannya sama-sama akan mendapatkan pembebasan dari api neraka dan ampunan pada hari Arofah.” (Lathoif Al Ma’arif, 482)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

“Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadiir" (Tidak ada Ilah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya-lah segala kerajaan dan segala pujian, Allah Maha Menguasai segala sesuatu).” (HR. Tirmidzi, hasan)

Hari Arafah adalah hari disempurnakannya agama Islam dan digenapkannya nikmat.

عَنْ  طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ ، قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ مِنَ الْيَهُودِ إِلَى عُمَرَ ، فَقَالَ : يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ آيَةٌ فِي كِتَابِكُمْ تَقْرَءُونَهَا ، لَوْ عَلَيْنَا نَزَلَتْ ، مَعْشَرَ الْيَهُودِ ، لَاتَّخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ عِيدًا ، قَالَ : وَأَيُّ آيَةٍ ؟ قَالَ : { الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ ، وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي ، وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا  } ، فَقَالَ  عُمَرُ : إِنِّي لَأَعْلَمُ الْيَوْمَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ ، وَالْمَكَانَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ ، ” نَزَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَاتٍ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ “ -

Dari Thariq bin Syihab berkata: “Seorang pendeta Yahudi datang kepada Umar bin Khathab dan berkata, “Wahai amirul mukminin, ada sebuah ayat dalam kitab suci kalian yang senantiasa kalian baca. Seandainya ayat tersebut diturunkan kepada kami, kaum Yahudi, niscaya hari turunnya ayat tersebut akan kami tetapkan sebagai hari raya.

Umar bertanya, “Ayat yang mana?” Pendeta Yahudi itu menjawab, “Ayat : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nimat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. (QS. Al-Maidah (5): 3).”

Umar berkata, “Sungguh aku mengetahui hari dan tempat turunnya ayat tersebut. Ayat tersebut turun kepada Rasulullah saat beliau wuquf di 'Arafah pada hari Jum’at.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Pahala Orang yang Shaum hari 'Arafah

Dari Abu Qatadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Puasa satu hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya. Puasa hari ‘Asyura’ (tanggal 10 Muharram), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya.” (HR. Muslim).

Imam An Nawawi dalam Al Majmu' berkata, "Adapun hukum puasa Arafah menurut Imam Syafi'i, disunnahkan puasa Arafah bagi yang tidak berwukuf di Arafah. Adapun orang yang sedang berhaji dan saat itu sedang berada di Arafah, disunnahkan bagi mereka untuk tidak berpuasa karena adanya hadits dari Ummul Fadhl."

عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ بِنْتِ الْحَارِثِ أَنَّ نَاسًا تَمَارَوْا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ صَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ بِصَائِمٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ فَشَرِبَهُ

Dari Ummul Fadhl binti AL Harits, bahwa orang-orang berbantahan di dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebagian mereka mengatakan, 'Beliau berpuasa.' Sebagian lainnya mengatakan, 'Beliau tidak berpuasa'. Maka Ummul Fadhl mengirimkan semangkok susu kepada beliau, ketika beliau sedang berhenti di atas unta beliau, maka beliau meminumnya." (HR. Bukhari, no. 1988; Muslim, no. 1123)

سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab, "Puasa itu menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun berikutnya." (HR. Muslim)

Barangsiapa yang ingin membebaskan dirinya dari api neraka dan diampuni dosa-dosanya pada hari Arafah, maka hendaklah melakukan hal-hal yang dapat membebaskannya dari api neraka dan mendapatkan ampunan Allah Ta'ala. Diantaranya adalah:

1. Puasa pada Hari Arafah.

Dari Abu Qatadah bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

"Puasa pada hari Arafah, saya berharap kepada Allah semoga Allah mengampuni dosa-dosa tahun sebelumnya dan dosa-dosa tahun sesudahnya." (HR. Muslim)

2. Menjaga Pancaindra dari apa-apa yang diharamkan pada hari itu. 

كَانَ الْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ  رَدِيفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَرَفَةَ ، قَالَ : فَجَعَلَ الْفَتَى  يَلْحَظُ النِّسَاءَ ، وَيَنْظُرُ إِلَيْهِنَّ ، قَالَ : وَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْرِفُ وَجْهَهُ بِيَدِهِ مِنْ خَلْفِهِ مِرَارًا ، قَالَ : وَجَعَلَ الْفَتَى يُلَاحِظُ إِلَيْهِنَّ ، قَالَ : فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " ابْنَ أَخِي إِنَّ هَذَا يَوْمٌ مَنْ مَلَكَ فِيهِ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ وَلِسَانَهُ غُفِرَ لَهُ

“Fadhl bin Abbas membonceng Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pada hari Arafah. Fadhl yang saat itu masih sangat muda memandang dan mengawasi para wanita di Arafah. Maka Rasulullah SAW berkali-kali menggerakkan tangannya untuk memalingkan wajah Fadhl dari memandang mereka. Namun Fadhl berkali-kali memandang ke arah mereka lagi. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Anak saudaraku, pada hari ini barang siapa mampu mengendalikan pendengaran, penglihatan, dan lisannya, niscaya ia akan diampuni Allah.” (HR. Ahmad, Ibnu Sa’ad, Abu Ya’la, Ibnu Khuzaimah, Ath-Thabarani, dan Al-Baihaqi.)

3. Memperbanyak mengucapkan kalimat Syahadat dengan ikhlash dan benar, karena tauhid adalah dasar dan pondasi agama Islam yang telah Allah Ta'ala sempurnakan pada hari Arafah.

Dari Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya (Abdullah bin Amr bin Al-Ash) radhiallahu anhu bahwa Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda,

خَيْرُ الدُّعاءِ دعاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ. وَخَيْرُ ما قُلْتُ أَنا وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ قَبْلِي: لا إله إلا الله وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Doa terbaik adalah doa di hari Arafah. Dan ucapan terbaik yang saya dan para nabi sebelumku pernah ucapkan adalah, “LAA ILAHA ILLALLAHU WAHDAHU LAA SYARIKA LAHU, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAY`IN QADIR (Tidak ada sembahan yang hak selain Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nya semua kekuasaan, hanya milik-Nya semua pujian, dan Dia Maha Mampu atas segala sesuatu).” (HR. At-Tirmizi no. 3585 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmizi: 3/184)

4. Banyak berdoa untuk diampuni dan dibebaskan dari api neraka karena diharapkan doa akan dikabulkan saat itu.

Ibnu Abi Dun-ya meriwayatkan dari Ali ra, ia berkata, "Tidak ada hari yang berlalu di dunia, kecuali Allah membebaskan beberapa hamba-Nya dari neraka, dan tidak ada hari yang Allah bebaskan hamba-Nya lebih banyak daripada hari Arafah. Oleh karena itu, perbanyaklah kalian mengucapkan, 
"Allahumma a'tiq raqabati minan naar, 
wa awsi' li minar rizqil halal, 
washrif 'anni fasaqatil jinni wal insi
(Ya Allah bebaskanlah diriku dari api neraka, karuniakanlah rezeki yang halal kepadaku, dan jauhkanlah manusia dan jin yang jahat dariku).
(Lathoif Al Ma’arif)


No comments: