Monday, 8 June 2015

Cukuplah Kesalahan itu, Jangan Ulangi di Ramadhan ini

Cukuplah Kesalahan itu, Jangan Ulangi di Ramadhan ini

Ramadhan. Bulan suci nan mulia itu kini datang lagi. Berjuta keberkahan dan kebaikan pun menyertainya, sebagimana lazimnya setiap kali ia datang. Tak ada yang berkurang sedikit pun, kecuali kita dan usia kita yang pasti terus berkurang, yang mengisyaratkan bahwa jatah pertemuan kita dengan bulan lautan pahala dan pelebur dosa itu semakin berkurang pula.

Kita tidak pernah tahu kapan jatah hidup kita akan berakhir, dan Ramadhan mana yang menjadi penutup dari Ramadhan-Ramadhan yang telah kita lalui. Mungkin lima, sepuluh, atau lima belas tahun lagi Ramdhan terakhir itu akan kita jumpai. Tetapi mungkin pula, justru Ramadhan sekarang inilah yang menjadi penutup kebrsamaan kita dengan bulan suci yang bernama Ramadhan itu. Kita tidak pernah tahu. Semua kembali kepada Allah Yang Maha mengatur segalanya.

Sayangnya, Ramadhan yang kemuliaannya tidak tertandingi dengan bulan manapun ini, seringkali harus datang dan berlalu tanpa meninggalkan bekas di hati, jiwa, ibadah, dan amal kita. Ia pergi meninggalkan kita sedang kita belum sempat berbuat apa-apa. Inilah kondisi yang umum terjadi menerpa kita.

Mari kita manfaatkan Ramadhan kali ini, dengan meminimalisir kekeliruan dan kegagalan kita pada Ramadhan lalu. Berikut ini beberapa kiat yang bisa kita lakukan:

1. Bekal Perjalanan Kita Yang Jauh Ada di Sini

Ibarat ladang, Ramadhan adalah tanah yang sangat subur. Apapun yang kita tanam ia akan tumbuh subur dengan hasil yang berlipat ganda. Di sinilah tempatnya kita mengumpulkan dan menyimpan perbendaharaan sebanya-banyaknya untuk sebuah perjalanan yang panjang.

Abu Dzar ra pernah berkata di hadapan orang banyak di depan Ka'bah, "Wahai saudaraku, bagaimana menurut kalian jika ada orang yang ingin bepergian namun ia tidak mempunyai bekal, apakah ia bisa sampai di tujuan?" "Tidak", jawab mereka. Abu Dzar melanjutkan, "Karena itu, perjalanan di Hari Kiamat lebih jauh dari semua perjalanan. Ambilah semua yang layak menjadi bekal kalian! Lakukanlah di dunia segala yang akan kalian petik hasilnya di akhirat kelak! Berhajilah untuk mengingat peristiwa-peristiwa yang mencengangkan! Berpuasalah di hari yang sangat panas untuk menghadapi panjangnya yaumul mahsyar! Shalatlah dua rakaat di gulita malam untuk mengingat alam kubur! Bersedekahlah dengan harta kalian agar selamat dari kesulitan akhirat! Jadikanlah dunia ini sebagai dua majelis saja, yaitu majelis untuk mencari sesuatu yang halal dan majlis untuk mencari kebahagiaan akhirat."

2. Kita Harus Lebih Baik dari Orang Lain

Ibarat sarana perlombaan, Ramadhan datang dan memberi kita kesempatan yang sama dengan yang lain.

Dalam berlomba, kita tentu menginginkan prestasi yang terbaik, keluar sebagai pemenang, atau paling tidak kita berada pada barisan orang-orang yang berhasil menyelesaikan perlombaan dengan hasil baik.

Hasan Al Bashri berkata, "Allah telah menjadikan Ramadhan sebagai arena pertandingan makhluk-makhluk-Nya. Mereka berlomba dengan ketaatan demi meraih ridha-Nya. Sebagian berhasil dan keluar sebagai pemenang, sebagian lagi meninggalkan ketaatan itu dan mereka pun merugi. Sungguh mengherankan orang yang tertawa dengan kelalaian pada hari ketika kemenangan hanya bagi mereka yang berbuat baik dan kerugian bagi orang-orang durhaka."

3. Tak Ada yang Tahu Batas Usia Kita

Kebersamaan kita dengan Ramadhan tidaklah abadi. Ia adalah kesempatan yang terbatas yang datang hanya setahun sekali, sebatas hidup kita di dunia. Itu pun harus dikurangi dengan jatah masa kanak-kanak kita dimana kita belum terlalu mengerti apa itu hakekat bulan Ramadhan. Juga masa-masa jahiliyah kita yang penuh dengan kelalaian dan hura-hura yang sering kali melewatkan Ramadhan tanpa amal apa-apa.

Cobalah kita hitung sendiri, hingga sejauh umur kita sekarang ini ada berapa Ramadhankah yang berhasil kita selesaikan dengan baik?

Suatu hari Hasan Al Bashri mengantar jenazah, ia memegang tangan sahabatnya lalu membisikkan, "Apa yang akan dilakukan oleh jenazah itu jika ia ditakdirkan hidup lagi?" Antara sedih dan kaget, sahabatnya menjawab, "Tentu ia akan berbuat lebih baik lagi dari sebelum matinya." Hasan berkata, "Jika dia tidak dapat melakukannya, jadilah kamu seperti yang kamu katakan itu."

4. Kehilangan itu Baru Terasa Setelah Kita Membutuhkannya

Menyadari jatah hidup kita yang sangat singkat ini, semestinya Ramadhan dengan keutamaannya yang melimp[ah kita maknai sebagai barang mahal yang tak ternilai.

Ramadhan adalah kesempatan berharga yang tidak datang setiap saat. Dan ketika datang pun tidak menunggu kesiapan dan keluangan waktu kita. Maka, kitalah yang harus meluangkan waktu dan mempersipakan diri menyambutnya, beramal di dalamnya sebanyak-banyaknnya, agar ketika berlalu tidak timbul penyesalan yang mendalam karena kelalaian kita sendiri.

5. Jangan Bosan Mempelajari Keutamaan dan Keistimewaan Ramadhan

Bersabar dalam mencari dan merengkuh keistimewaan dan keutamaan Ramadhan mungkin terasa begitu sulit bagi kita. Pasalnya, setiap detik yang kita temui di bulan ini sama saja dengan detik-detik yang kita lewati dari waktu ke waktu. Tidak ada kesan khusus yang indah dan menarik. Akhirnya, semua berjalan biasa saja, hari demi hari kita lalui tanpa prestasi ibadah dan amal yang bisa dibanggakan.

Jika demikian, mungkin kita perlu berhjenti sejenak, merenungkan sambil mencari tahu, barangkali karena kita belum begitu akrab dengan Ramadhan. Pengetahuan kita tentangnya mungkin sangat terbatas. Keutamaan dan keistimewaannya hanya pernah terdenhgar selintas dan belum ada usaha mengenal dan mendalaminya lebih jauh, sehingga kita pun tidak termotivasi untuk memaksimalkan ibadah kita sendiri.

Ramadhan adalah musim semi bagi sebuah pohon takwa, setelah selama sebelas bulan daun-daunnya berguguran ditimpa kemarau ibdaha. Ranting-rantingnya nyaris patah diterpa angin maksiat. Ramadhan datang untuk mengembalikan keindahan pohon takwa, dengan memberikan naungan berjuta kebaikan, serta memberi buah sepanjang musim dengan izin Rabb-Nya.


Sumber : Kutipan Buku "Nasehat Ramadhan Orang-Orang Shalih"

No comments: