Sunday, 7 June 2015

Haruskah Kesalahan Ramadhan Lalu Kita Ulangi?

Haruskah Kesalahan Ramadhan Lalu Kita Ulangi?

Status sebagai seorang Muslim adalah sebuah anugerah yang harus kita syukuri. Karena dengan status tersebut, berbagai kenikmatan Allah limpahkan kepada kita. Allah selalu "memanjakan" kita dengan berbagai karunia-Nya yang tiada batas. Meski terkadang (bahkan sering) kita tidak menyadarinya atau sengaja tidak mengindah-kannya.

Kini sebuah karunia besar Allah kembali dihadirkan. Karunia yang kerinduannya tidak hanya dirasakan oleh manusia beriman, tetapi juga semua makhluk Allah yang ada di muka bumi ini. Tentu karena keutamaan dan keistimewaannya yang luar biasa. Karunia itu adalah Ramadhan Mubarak.

Sayangnya, setiap tahun Ramadhan datang menyapa kita, tapi kita selalu saja melakukan kesalahan. Ya, kesalahan menyia-nyiakan Ramadhan hingga ia berlalu, dan kita keluar darinya sebagai orang yang merugi, melenggang dengan tangan hampa. Padahal Ramadhan menghendaki kita keluar sebagai pemenang dan menjadi manusia yang bersih dari dosa-dosa, seperti bayi yang baru lahir dari rahim ibunya.


Kesalahan Pemikiran Bahwa Ramadhan Tidak Istimewa

Anggapan kita bahwa Ramadhan sama saja dengan bulan-bulan yang lain. Biasa-biasa saja. Tidak ada hal yang istimewa yntuk dulakukan, adalah kesalahan pertama yang menyebabkan kita tidak dapat memetik dan menuai keberkahan Ramadhan.

Tanpa sadar sebenarnya kita telah memangkas usia dan kesempatan kita beramal untuk mengimbangi, bahkan mengalahkan prestasi ibadah umat terdahulu yang dikarunia usia panjang. Sebab, kata Rasulullah di dalam Ramadhan itu terdapat suatu malam yang apabila kita melakukan ibadah di malam itu, sama halnya kita melakukan ibadah selama seribu bulan. Artinya, jika Allah memberikan kita kesempatan berjumpa dengan Ramadhan sebanyak sepuluh kali dan kita melakukan ibadah pada malam tersebut, maka kita nyaris menyamai umur dan ibadah Nabi Nuh as yang dikarunia usia hampir seribu tahun. Sungguh sebuah keistimewaan yang luar biasa.

Kita patut berduka bila kedatangan Ramadhan bagi kita terasa biasa-biasa saja. Karena sesungguhnya inilah kemunduran tragis bagi kita. Begitu dalamnya jalan-jalan yang dipesankan agama kita untuk menyambut Ramadhan. Semua ini semestinya kita lakoni pula di bulan-bulan lainnya, namun sebenarnya di bulan Ramadhan kita diberikan lagi kesempatan untuk memulai semuanya.

Bagaimana kita tetap kurang peduli, apakah kita termasuk dalam golongan muqarrabin (mendekat kepada Allah), atau puasa kita justru tertolak, hingga kita termasuk dalam golongan orang yang terjatuh dari rahmat Allah swt?

Sungguh semua kesalahan yang berulang ini mestinya segera kita akhiri. Kita harus belajar dan berusaha menemukan keistimewaan Ramadhan agar kita tidak lagi mengulangi semua kesalahan Ramadhan lalu.



Kesalahan Karena Kita Gagal Menancapkan Kesabaran

Rasulullah saw menyebut Ramadhan sebagai bulan kesabaran. Beliau bersabda, "Puasa itu setengah sabar." (HR. Tirmidzi)

Di bulan Ramadhan ini kesabaran kita memang benar-benar diuji. Tetapi kita diuji bukan dengan musibah dan penderitaan, bukan pula dengan hal-hal yang haram. Tetapi kita diuji dengan sesuatu yang halal, sesuatu yang telah menjadi hak kita. Kita diuji untuk meninggalkan makanan dan minuman yang telah kita dapatkan dari usaha kita sendiri. Kita diuji untuk tidak mendatangi istri yang telah halal dan menjadi hak kita. Kita diuji untuk memanfaatkan lebih banyak waktu untuk beribadah.

Menghadapi ujian seperti itu tentu membutuhkan kesabaran yang berlipat ganda. Sebab, siapapun akan sulit bertahan menerima larangan untuk memperoileh haknya, kecuali orang yang dapat bersabar. Dan karena kesabaran itulah maka Allah swt dalam sebuah hadits qudsi berfirman, "Puasa itu milikku dan Akulah yang akan memberikan ganjarannya, karena orang yang berpuasa itu meninggalkan syahwatnya, makan, dan menumnya karena mengharap (ridha)Ku." (HR. Bukhari).

Banyak kesalahan dan kelalaian yang kita lakukan di bulan Ramadhan karena kita tidak kuat untuk  bersabar.


Kesalahan Karena Gagal Menghadirkan Makna-Maknanya

Berpuasa memang bukan sesuatu yang baru. Sebab Allah telah mensyari'atkan sejak dahulu, kepada umat-umat sebelum kita. Tetapi perintah berpuasa sebulan penuh di Bulan Ramadhan inilah yang tidak mereka dapatkan. Bahkan mereka tidak merasakan betapa nikmatnya keberkahan Ramadhan, juga keagungan fadhilah-fadhilahnya. Ramadhan sepertinya memang dikhususkan untuk kita, keistimewaannya dan keutamannya hanya diberikan kepada kita. Sebuah karunia yang tidak ada pada orang-orang sebelum kita, umat Islam.

Rasulullah saw bersabda, "Umatku diberi lima keutamaan di bulan Ramadhan yang tidak diberikan kepada satu umat pun sebelum mereka. Keutamaan-keutamaan itu adalah: aroma mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi; para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka; Allah Azza wa Jalla setiap hari menghiasi surga-Nya lalu berfirman (kepada surga), "Hampir tiba saatnya para hamba-Ku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu,"; pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya; dan diberikan kepada umatku ampunan pada akhir malam." Beliau ditanya, "Wahai Rasulullah, apakah malam itu Lailatul Qadr?" Beliau menjawab, "Tidak, tetapi orang yang beramal tentu diberi balasannya jika ia menyelesaikan amalnya." (HR. Ahmad)

Andai umat-umat terdahulu hadir di tengah-tengah kita. Lalu menyaksikan kita yang sedang asyik beramal dan beribadah di bulanRamadhan, mungkin mereka akan sangat iri dan bermohon kepada Allah agar dikarunia nikmat yang sama. Tapi sayangnya, kita tidak begitu pandai menggali makna-maknanya. Sehingga Ramadhan berlalu begitu saja dan kita seperti tidak mengalami kerugian apa-apa. Padahal langit dan bumi, beserta segala isinya menjadi saksi atas kerugian besar itu, menangis dan merintih melihat kita yang tidak juga berubah menjadi manusia yang bertaqwa. Rasulullah bersabda, "Barangsiapa tidak memperoleh kebaikan Ramadhan maka dia tidak memperoleh apa-apa." (HR. Ahmad).

Jika kita tidak mampu menghadirkan "makna-makna" keutamaan dan keberkahan Ramadhan serta menjaga kewajiban-kewajiban dan meninggalkan yang diharamkan, entah kapan kesalahan yang sama di setiap Ramadhan tidak terulang lagi. Padahal kita berharap bahwa Ramadhan ini akan mengantarkan kita pada Ramadhan akan datang sebagai manusia beriman yang bebas dari dosa. Seperti Sabda Rasulullah saw, "Shalat lima waktu, Jum'at sampai Jum'at berikutnya dan Ramadhan sampai Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa yang terjadi di antara waktu-waktu tersebut, selama dosa-dosa besar ditinggalkan." (HR Muslim).

Sumber : Kutipan Buku "Nasehat Ramadhan Orang-Orang Shalih"

No comments: