Bersegeralah!!! .... Jangan Menunda
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ
الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى
مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
“Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah
(musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu
pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada
pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan
kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” (HR. Muslim no. 118).
Ibnu
'Atha berkata, "Sesungguhnya pada setiap waktu yang datang, maka bagi
Allah atas dirimu kewajiban yang baru. Bagaimana kamu akan mengerjakan
kewajiban yang lain, padahal ada hak Allah di dalamnya yang belum kamu
laksanakan!".
Hari itu adalah hari yang teramat bahagia bagi
Handzalah bin Abu Amir. Betapa tidak, ia baru saja melangsungkan
pernikahan dengan seorang wanita yang dicintainya. Saat sedang
melaksanakan "kewajibannya" dengan isteri, terdengar olehnya seruan agar
kaum Muslimin bersiap sedia untuk menghadapi kaum kafir Quraisy di
Bukit Uhud.
Mendengar seruan itu, Handzalah melompat dari
medan peraduannya bersama isteri dan segera bergabung dengan tentera
Islam lainnya. Dalam pertempuran di Bukit Uhud tersebut, Hanzhalah
bertarung dengan sangat berani. Ia bertemu dengan Abu Shufyan bin Harb.
Ketika itu, Hanzhalah dalam posisi di atas dan hendak membunuhnya. Tapi
mendadak diketahui oleh Syaddad bin Aus dan ia lebih dahulu membunuhnya.
Handzalah pun syahid di jalan Allah.
Segera setelah
peperangan tamat, Rasulullah SAW menemukan jenazah Handzalah. Beliau
bersabda, "Sesunguhnya sahabat kalian (Handzalah) dimandikan oleh
malaikat, maka tanyakanlah bagaimana kabar keluarganya". Para sahabat
kemudian menemui istri Handzalah. Istrinya berkata, "Ketika mendengar
panggilan untuk berperang, suamiku langsung menyambutnya, padahal ia
dalam keadaan junub". Mendengar itu, Rasulullah SAW pun berkomentar,
"Itulah yang menyebabkan para malaikat memandikan jenazahnya".
Bersegera dan jangan menunda
Entahlah,
apakah kita sanggup atau tidak meneladani apa yang dilakukan Handzalah?
Terlepas dari sanggup atau tidak, ada satu karakter yang telah
ditunjukkan Handzalah, yaitu tidak menunda-nunda. Handzalah tidaklah
sendirian. Banyak sahabat dan orang saleh yang sangat haus untuk berbuat
kebaikan. Mereka tidak rela bila sedetikpun waktunya berlalu sia-sia.
Mereka akan bersegera melakukan sebuah amal, bila amal tersebut telah
tiba waktunya. Termasuk meninggalkan amal utama menuju amal yang lebih
utama.
Dikisahkan Hasan Al-Banna, misalnya. Suatu ketika salah
seorang anaknya sakit keras. Dia dan istrinya benar-benar
mengkhawatirkan keadaan sang anak yang makin memburuk. Pada saat yang
sama, datanglah panggilan untuk melayani (berkhidmat) pada umat. Di
antara dua pilihan tersebut, Al-Banna memilih yang panggilan kedua. Ia
pun meninggalkan anaknya yang tergolek lemah di tempat tidur. Saat itu
istrinya berkata, "Sanggupkah engkau meninggalkan anakmu yang sedang
sakit keras?" Al-Banna menjawab, "Apakah dia akan sembuh dengan adanya
aku. Padahal penyakit umat di luar sana jauh lebih penting untuk aku
tangani!".
Apa yang menyebabkan Handzalah, Hasan Al-Banna, dan
orang-orang saleh lainnya begitu bersemangat dalam kebaikan? Sebabnya,
mereka berhasil mengatasi rasa takut. Ketakutan adalah salah satu
penyebab orang menunda pekerjaan. Sebenarnya, ada tiga pilihan saat kita
dihadapkan pada rasa takut ini, yaitu: menghindarinya, mengharapkannya
cepat berlalu, dan melawan rasa takut tersebut dengan segera
melakukannya. Orang akan selalu menunda-nunda bila pilihannya jatuh pada
nomor satu dan dua. Ia akan mencari seribu satu alasan untuk menghindar
dari tugas yang semestinya harus ia lakukan. Pilihan ketiga adalah
penyelesaian terbaik dan itulah yang dilakukan Handzalah dan Al-Banna.
Selain
itu, mereka pun miliki energi luar biasa untuk berbuat. Energi tersebut
lahir dari sebuah impian besar, yaitu keinginan berjumpa dengan Allah
SWT. Impian, cita-cita, atau keinginan yang sangat besar adalah
penangkal paling efektif untuk menghancurkan rasa takut dan penundaan.
Tampaknya, mereka sangat terinspirasi janji dari Allah SWT.
Allah Ta'ala berfirman,
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ
عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Bersegeralah kalian menuju ampunan Tuhan kalian dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS Ali Imran [3]: 133).
Yang ketiga, mereka tidak dilalaikan dengan
angan-angan kosong. Angan-angan kosong di sini adalah harapan akan
hadirnya hari esok. Tampaknya mereka sedar bahwa kesempatan untuk syahid
sulit untuk berulang kembali. Walaupun kesempatan itu datang, ia tidak
tahu apakah masih hidup atau sudah mati; sedang sihat atau sakit. Benar
bila Islam melarang menunda tugas saat ini ke "sebentar lagi", juga amal
ini ke "esok". Sebab, kita tidak tahu apa yang ada di balik "sebentar",
"esok", atau "nanti" itu.
Ada hikmah menarik dari Imam Ali
RA. Ia melukiskan bahwa "saat" itu hanya ada tiga, yaitu (yang) berlalu
dan tak dapat diharapkan lagi, maka jadikanlah ia sebagai pelajaran;
(yang) kini pasti adanya, jadikanlah ia peluang; dan yang akan datang,
tapi ingatlah, boleh jadi ia akan menjadi milik orang lain. Pegang yang
pasti, jangan diperdaya oleh esok, dan jangan pula menghadirkan
keresahan esok ke hari ini. Kerana, yang demikian itu hanya akan
menambah beban diri. "Tahukah Anda bagaimana waktu mencuri usia
manusia?" demikian seorang bijak bertanya dengan nada yang retorik. Ia
menjawab, "Waktu mencurinya melalui hari esok yang melalaikannya tentang
hari ini (dengan menunda), sampai usianya habis".
Bersegera
dan tidak menunda adalah cerminan pribadi seorang Muslim. Tepatnya,
cerminan dari orang yang sedar akan hakikat waktu. Waktu itu cepat
sekali berlalunya. Sekali berlalu, ia tidak akan pernah kembali dan
tidak akan pernah tergantikan. Karena itu, waktu menjadi harta termahal
yang dimiliki manusia, sehingga menggunakannya dengan cara yang tepat
menjadi sebuah kewajiban.
Ada tiga alasan kenapa Allah dan
Rasul-Nya mewajibkan manusia untuk tidak menunda sebuah pekerjaan.
Pertama, tidak ada jaminan kita bisa hidup hingga esok hari. Dan tiada
seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang diusahakannya
besok (QS Luqman [31]: 34). Siapakah yang dapat menjamin kita bisa hidup
hingga besok, lusa, bulan depan, atau tahun depan; padahal kematian
begitu dekat dengan tiap manusia. Seorang penyair berkata, "Selesaikan
pekerjaanmu hari ini, jangan menunggu besok. Siapa yang akan menanggung
perkaramu di esok hari?"
Kedua, dalam setiap waktu ada hak dan
kewajiban yang harus ditunaikan. Tidak ada waktu yang kosong dari
aktiviti. Pengabaian terhadap hak dan kewajiban tersebut akan membawa
kemudharatan berlipat-lipat bagi yang melakukannya. Seorang ahli hikmah
berkata bahwa kewajiban pada tiap-tiap waktu memungkinkan untuk diganti,
namun hak-hak dari tiap waktu tersebut tidak mungkin diganti. Ibnu
'Atha mengungkapkan, "Sesungguhnya pada setiap waktu yang datang, maka
bagi Allah atas dirimu kewajiban yang baru. Bagaimana kamu akan
mengerjakan kewajiban yang lain, padahal ada hak Allah di dalamnya yang
belum kamu laksanakan!"
Ketiga, baik bersegera ataupun menunda
yang terus dilakukan akan menjadikan jiwa terbiasa melakukannya. Tidak
akan pernah menjadi penunda "kelas berat", kecuali diawali dengan
menunda hal-hal kecil dalam waktu yang lama. Kebiasaan menunda akan
menjadi tabiat kedua yang akan sulit ditinggalkan. Karena itu, Allah SWT
melarang hamba-Nya melalaikan waktu sedikitpun, termasuk menunda
pekerjaan.
Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيْئَةً نُكِتَتْ فِي
قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ
قَلْبُهُ وَإْنَ عَادَ زِيْدَ فِيْهَا حَتَّى تَعْلُوْ قَلْبَهُ
“Sesungguhnya orang
Mukmin itu apabila berbuat dosa akan ada di dalam hatinya bintik hitam,
seandainya ia bertaubat, maka akan hilang bintik hitamnya; dan apabila
ia menambah nescaya akan bertambah (bintik hitam tersebut), sehingga
akan menutup hatinya” [HR. Ibnu Mâjah, Tirmidzi [6] . Hadits ini dihasankan oleh syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan Tirmidzi.].
Wallahu a'lam
bish-shawab.

No comments:
Post a Comment